TVRINews – Madrid, Spanyol
Krisis biaya hidup dan transparansi memicu aksi jalanan di berbagai kota.
Kenaikan harga bahan bakar, kemunduran kualitas layanan publik, serta krisis keterjangkauan hunian memicu gelombang aksi protes di sejumlah negara Eropa sepanjang musim gugur ini.
Demonstrasi yang berlangsung selama beberapa pekan di kota-kota besar tercatat berujung pada penangkapan, perusakan fasilitas, serta bentrokan di Prancis, Italia, dan Albania.Sementara itu, aksi kemah keprihatinan terkait isu perumahan terus membentang di Spanyol dan Portugal.
Sosiolog dari Universitas Deusto Spanyol, María Silvestre, menilai gelombang ini lahir dari akumulasi kecemasan generasi muda.
"Terdapat rasa ketidakpastian yang kuat serta hilangnya kendali atas masa depan di kalangan anak muda Eropa. Ketika berbagai persoalan spesifik bertemu di satu titik, percikan emosi dengan cepat menggerakkan massa ke jalanan," ujar Silvestre. Dikutip AP News Selasa 20 Oktober 2026.

(Polisi berhadapan dengan para pengunjuk rasa "Italia in Piazza" di Milan, Italia, Sabtu, 17 Oktober 2026. [Foto: Stefano Porta/LaPresse via AP])
Situasi ini memanas menjelang agenda politik penting di beberapa negara anggota Uni Eropa. Di sisi lain, isu gelombang migrasi dan disinformasi turut dimanfaatkan oleh kelompok politik sayap kanan. Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan komentarnya melalui platform Truth Social terkait situasi di Prancis.
"Gelombang migran telah menguasai Prancis. Mereka harus segera menutup perbatasan," tulis Trump di media sosialnya.
Meski demikian, pihak kepolisian dan otoritas resmi Prancis menegaskan bahwa aksi protes sebagian besar digerakkan oleh dinamika domestik dan kelompok pemuda yang frustrasi, bukan akibat faktor imigran.
Tekanan Sektor Pendidikan dan Perumahan
Di Prancis, pelajar tingkat menengah memblokir fasilitas sekolah selama lebih dari tiga pekan untuk menuntut penambahan anggaran dan staf pengajar, khususnya di wilayah berpendapatan rendah. Aksi ini meluas setelah serikat pekerja CGT dan kelompok aktivis bergabung.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyampaikan pemicu kerusuhan dan perusakan fasilitas umum dalam pidato resminya.
"Pihak yang melakukan penjarahan wajib bertanggung jawab atas kerusakan yang timbul, dan siapapun yang mencoba merusak ketertiban Republik akan diproses sesuai hukum," tegas Macron.
Di Spanyol, isu keterjangkauan hunian memicu pendirian kemah protes di Puerta del Sol, Madrid, sebelum menyebar ke kota-kota lain. Tekanan publik ini mendorong Perdana Menteri Pedro Sánchez mengusulkan undang-undang perumahan, meski dinamika di parlemen akhirnya berujung pada pendorongan pemilu lebih awal.

(Seorang pria memasang atap pelindung di perkemahan darurat yang didirikan oleh para pengunjuk rasa di alun-alun Puerta del Sol di Madrid, Spanyol, Jumat, 16 Oktober 2026. [Foto: AP/Bernat Armangue])
Seorang pekerja sektor jasa di Madrid, Diana Manzanares (20), menggambarkan beban finansial yang dialami rekan sebayanya.
"Sebagian besar penghasilan saya habis hanya untuk membayar sewa tempat tinggal. Teman satu hunian saya juga mengalami kesulitan yang sama untuk memenuhi kebutuhan bulanan," kata Manzanares.
Isu Inflasi dan Gerakan Anti-Korupsi
Di Italia, kenaikan inflasi yang menyentuh angka 4,2 persen pada September memicu lahirnya gerakan massa "Italia in Piazza". Gerakan ini menuntut perbaikan upah, layanan kesehatan, dan akses perumahan. Otoritas kepolisian Milan mencatat setidaknya 271 orang ditangkap pasca-bentrokan dalam aksi tersebut.
Sementara itu di Albania, demonstrasi yang dipelopori mahasiswa di Tirana mendesak pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama terkait isu transparansi dan tata kelola proyek pembangunan. Aksi serupa juga berlangsung di Serbia, di mana kelompok mahasiswa mengawal jalannya proses pemilu guna memastikan prinsip akuntabilitas pemerintahan.










