TVRINews – Washington. DC
Ricky Buria dinilai minim pengalaman, terlibat drama internal, dan gagal tes poligraf; Gedung Putih pilih calon sendiri untuk melindungi Hegseth dari skandal baru.
Gedung Putih secara tegas memblokir pilihan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, dalam menunjuk Kepala Staf-nya dan memilih kandidatnya sendiri. Langkah ini diambil sebagai bentuk intervensi demi menghindari kekacauan internal yang lebih jauh di lingkungan Departemen Pertahanan.
Menurut dua sumber yang mengetahui langsung proses ini mengungkapkan kepada media setempat , Hegseth sebelumnya mengusulkan Kolonel Marinir Ricky Buria sebagai Kepala Staf menggantikan Joe Kasper, yang mundur bulan lalu akibat investigasi kebocoran informasi yang menyebabkan pemecatan tiga pejabat senior lainnya. Namun, Gedung Putih menilai Buria tidak layak karena dinilai minim pengalaman, tidak punya kemampuan politik yang mumpuni, dan tidak disukai di lingkungan Gedung Putih.
Langkah campur tangan ini disebut tidak lazim, namun mencerminkan niat Donald Trump untuk menjaga posisi Hegseth dengan cara mencegah kesalahan baru yang bisa membahayakan keberlangsungan jabatan sang menteri. Hegseth, yang belakangan disorot karena kekacauan di kantornya, dianggap harus bebas dari skandal dalam beberapa bulan ke depan jika ingin bertahan.
Dalam kompromi yang disepakati, Buria tidak akan dipecat, tetapi tetap dipertahankan sebagai penasihat senior, sementara Gedung Putih akan menunjuk Kepala Staf versi mereka sendiri. Baik Pentagon maupun Gedung Putih menolak memberikan komentar.
Kekacauan internal ini berdampak besar, mengingat kantor Menteri Pertahanan memegang peran penting dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sensitif di lembaga yang mengelola anggaran lebih dari 800 miliar dolar AS serta mengawasi lebih dari 2 juta tentara.
Rencana pengangkatan Buria sebagai kepala staf membuat Gedung Putih khawatir, terutama karena Buria sebelumnya gagal tes poligraf dalam penyelidikan kebocoran, dan diduga ikut terlibat dalam grup obrolan Signal terkait rencana serangan misil terhadap Houthi di Yaman.
Buria, mantan pilot MV-22 yang pernah bertugas di Irak dan Afghanistan, awalnya menjadi asisten militer junior di bawah Menhan Lloyd Austin di era Joe Biden. Saat Hegseth datang, ia tetap bertugas di posisi tersebut dan dengan cepat membangun kedekatan personal dengan Hegseth dan istrinya.
Setelah Hegseth memecat Letnan Jenderal Angkatan Udara Jennifer Short, Buria mengambil alih sebagian tugas sebagai asisten militer senior, sebuah jabatan yang biasanya diisi oleh perwira bintang tiga. Ia ikut dalam pertemuan bilateral dan pengarahan kebijakan luar negeri.
Namun, kehadiran Letjen Angkatan Darat Christopher LaNeve sebagai asisten senior permanen seharusnya membuat Buria kembali ke posisinya semula. Alih-alih, Buria menyatakan akan pensiun dari militer untuk menjadi pejabat politik dan mulai bertindak layaknya kepala staf, termasuk mendekorasi ulang ruangannya sendiri.
Baca Juga: Pakistan Tuduh India Serang Tiga Pangkalan Militer dengan Rudal










