TVRINews - Moskow
Moskow menegaskan pertemuan puncak antara Putin, Zelenskyy, dan Amerika Serikat baru akan dilakukan setelah seluruh butir penyelesaian rampung.
Rencana pertemuan tingkat tinggi yang mempertemukan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dinilai hanya relevan apabila dilangsungkan pada tahap akhir penyelesaian konflik.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam wawancara dengan lembaga penyiaran Rusia, VGTRK, pada Senin 31 Agustus 2026.
Tanggapan ini muncul menyusul laporan media mengenai usulan dari Direktur CIA, John Ratcliffe, terkait gagasan pertemuan trilateral tersebut dalam kunjungannya ke Moskow pekan lalu.
Peskov menjelaskan bahwa wacana pertemuan tiga pemimpin ini sebenarnya telah lama menjadi subjek diskursus diplomatik. Kendati demikian, Moskow memandang pertemuan yang semata-mata ditujukan untuk merundingkan detail penyelesaian konflik adalah langkah yang tidak efektif.
"Perjanjian bukanlah sebuah transaksi yang primitif. Ini adalah proses penyelesaian yang kompleks dan terdiri dari sejumlah besar detail," ujar Peskov menegaskan sikap resmi pemerintah Rusia.
Kremlin menambahkan bahwa pertemuan puncak semacam itu memerlukan persiapan fundamental yang matang dan harus menjadi kulminasi dari kemajuan substansial dalam proses negosiasi sebelumnya.
Hingga saat ini, pihak Moskow tetap menilai bahwa otoritas di Kyiv masih menunjukkan keengganan untuk terlibat dalam upaya resolusi damai yang substantif.
Di sisi lain, laporan dari media AS, Axios, sebelumnya menyebutkan bahwa isu mengenai potensi KTT trilateral tersebut sempat mengemuka dalam lawatan pejabat tinggi intelijen Amerika Serikat ke ibu kota Rusia tersebut.
Sementara itu, dalam agenda diplomatik terpisah, Kremlin mengonfirmasi bahwa Presiden Vladimir Putin dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan di Bishkek.
Pertemuan yang berlangsung dari 31 Agustus hingga 1 September itu akan membahas sejumlah isu strategis, termasuk rencana referendum Armenia terkait arah masa depan integrasi geopolitiknya antara Uni Eropa dan Uni Ekonomi Eurasia. Peskov menyebutkan bahwa Moskow akan memanfaatkan forum tersebut untuk kembali memaparkan pandangan dan argumen strategisnya kepada pihak Yerevan.









