TVRINews – Melbourne, Australia
Pihak MyCentre menyebut tuduhan jaksa Uni Emirat Arab tidak berdasar dan menyesatkan publik.
Pengelola pusat komunitas Muslim di Melbourne, Samir Mohtadi, membantah tegas tuduhan yang mengaitkan lembaga yang dipimpinnya dengan insiden penyerangan kapten pesawat Flydubai.
Pernyataan ini disampaikan menyusul rilis temuan jaksa Uni Emirat Arab (UEA) yang menyebutkan bahwa pelaku penyerangan diduga teradikalisasi saat menempuh pendidikan di Australia.
Berdasarkan hasil penyelidikan jaksa UEA yang dipublikasikan media setempat, insiden tersebut terjadi dalam penerbangan rute Dubai menuju Tel Aviv pada 30 September lalu. Terduga pelaku, seorang kopilot asal Oman bernama Hamam al-Hammami, menganiaya kapten pesawat bersenjatakan kapak darurat sebelum akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh kru dan penumpang. Jaksa menyatakan aksi tersebut terinspirasi oleh serangan Al-Qaeda pada 11 September 2001.
Dalam laporan temuan tersebut, jaksa UEA mengklaim bahwa pelaku mulai terpapar paham ekstremisme melalui literatur dan konten daring selama berada di Australia. Jaksa juga menyebut pelaku sempat mengenal organisasi "MyCentre" yang dikelola oleh Samir Mohtadi, sosok yang juga dikenal dengan nama Abu Hamza. Meski demikian, pihak berwenang UEA tidak menetapkan status hukum atau tuduhan kejahatan terhadap MyCentre maupun Mohtadi.
Menanggapi laporan tersebut, Mohtadi menyampaikan penolakan keras atas klaim yang mengaitkan nama pribadi serta lembaganya dengan insiden udara tersebut.
"Saya menolak keras setiap upaya yang menghubungkan saya atau Multicultural Youth Centre dengan Al-Hammami. Tuduhan tersebut tidak berdasar, menyesatkan, dan berisiko merusak reputasi organisasi yang telah melayani masyarakat luas selama berdekade," ujar Samir Mohtadi dalam pernyataan resminya yang dikutip lembaga penyiaran Australia, ABC News Senin 12 Oktober 2026.
Mohtadi menambahkan bahwa otoritas terkait seharusnya melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum mempublikasikan informasi tersebut ke publik. Ia menegaskan bahwa seluruh kegiatan operasional pusat komunitas yang dipimpinnya senantiasa berfokus pada promosi perdamaian, toleransi, serta penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.
Hingga saat ini, lembaga kepolisian dan intelijen di Australia serta Selandia Baru masih melanjutkan penyelidikan terkait rekam jejak pelaku. Laporan penyiaran Radio New Zealand (RNZ) menyebutkan bahwa pemeriksaan berfokus pada riwayat aktivitas pelaku selama menjalani studi dan pelatihan penerbangan di kedua negara tersebut.










