TVRINews – Kyiv
Kyiv Siapkan Respon Balasan Jika Moskow Kembali Hantam Pembangkit Listrik Jelang Musim Dingin.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan komitmen negaranya untuk melakukan serangan balasan apabila Rusia terus menargetkan infrastruktur energi Ukraina jelang memasuki musim dingin.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Zelensky saat menghadiri pertemuan pejabat keamanan Eropa di Warsawa, Senin, 12 Oktober 2026. Ia menanggapi eskalasi serangan pesawat nirawak dan rudal balistik Rusia yang telah menyebabkan pemadaman listrik serta krisis air bersih di sejumlah wilayah Ukraina, termasuk Kyiv dan Kharkiv.

(Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berbicara dalam acara pembukaan Warsaw Security Forum, Senin, 12 Oktober 2026 di Warsawa, Polandia. [Foto Omar Marques/ Al Jazeera])
"Jika Rusia tidak menyetujui gencatan senjata sektor energi pada musim dingin ini, kami akan merespons," ujar Zelensky di hadapan para pemimpin Eropa.
Ketegangan ini mengemuka di tengah riak diplomasi antara Kyiv dan Washington. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim adanya kesepakatan "gencatan senjata energi" antara kedua belah pihak. Namun, Zelensky mengaku terkejut atas klaim tersebut karena tidak ada kesepakatan resmi yang terjalin, terlebih serangan drone Shahed milik Rusia masih menghantam Kyiv saat pengumuman itu diunggah.
Upaya Ukraina untuk mengamankan fasilitas listriknya dari ancaman serangan udara sejauh ini belum mendapat tanggapan konstruktif dari Moskow. Sebaliknya, intensitas serangan terhadap fasilitas vital Ukraina justru meningkat tajam.
Sikap tegas Kyiv mendapat dukungan dari jajaran pejabat tinggi Uni Eropa. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa efektivitas gencatan senjata sangat bergantung pada komitmen nyata dari pihak Moskow.
"Kami menyambut baik gencatan senjata energi jika hal itu benar-benar terwujud. Namun, hingga kini kami belum melihat indikasi bahwa Rusia akan mematuhinya," kata Kallas di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri Eropa.
Selain itu, kebijakan Washington yang mencabut sebagian sanksi terhadap impor diesel asal Rusia memicu kritik dari menteri luar negeri negara-negara Baltik. Langkah AS tersebut dinilai berpotensi menggerus soliditas komunitas transatlantik dalam menekan pendapatan perang Kremlin.
Guna meredakan ketegangan politik dan diplomatik yang berkembang, Zelensky menyatakan kesiapannya untuk berdialog, termasuk mengenai pelaksanaan pemilu di negaranya, dengan syarat Rusia bersedia menerapkan gencatan senjata secara menyeluruh selama 60 hari.










