TVRINews – Baku, Azerbaijan
Polisi Menangkap 37 Orang Menyusul Aksi Protes Aturan Seragam Sekolah
Sejumlah pengguna media sosial di Azerbaijan melaporkan gangguan akses terhadap platform digital pada Senin 12 Oktober 2026, bertepatan dengan meluasnya aksi unjuk rasa menolak pembatasan penggunaan Hijab di lingkungan sekolah negeri. Dalam peristiwa tersebut, pihak kepolisian setempat mengonfirmasi penangkapan terhadap 37 orang yang diduga terlibat dalam gangguan ketertiban umum.
Para pengguna platform Instagram dan TikTok mengeluhkan kegagalan memuat video serta penyegaran umpan berita (feed). Sebagian warga mengaku hanya dapat mengakses jaringan media sosial melalui bantuan Virtual Private Network (VPN). Muncul dugaan kuat di tengah masyarakat bahwa kendala teknis ini berkaitan erat dengan maraknya peredaran rekaman video aksi protes sekolah di ruang digital.
Gelombang unjuk rasa ini dipicu oleh kebijakan pemerintah Azerbaijan pada September lalu yang memperbarui regulasi seragam sekolah negeri. Aturan anyar tersebut melarang penggunaan pakaian tambahan yang dinilai bertentangan dengan standar seragam atau prinsip pendidikan sekuler, meski tidak menyebut istilah hijab secara eksplisit.
Berdasarkan laporan media lokal, sejumlah murid menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu masuk sekolah dan melancarkan aksi mogok belajar. Langkah ini diambil sebagai bentuk solidaritas terhadap sejumlah siswi yang diduga dilarang memasuki area sekolah akibat mengenakan Hijab.
Kementerian Dalam Negeri Azerbaijan, dalam keterangannya kepada kantor berita APA, menyatakan bahwa sekelompok massa di ibu kota Baku sempat terlibat konfrontasi dengan pengelola sekolah, melakukan perusakan fasilitas, serta berupaya mengganggu proses belajar-mengajar.
"Sebanyak 37 orang telah ditahan seiring dibukanya penyelidikan pidana terkait dugaan pelanggaran ketertiban umum," ujar perwakilan Kementerian Dalam Negeri Azerbaijan dalam pernyataan resminya kepada APA.
Azerbaijan merupakan negara kaya energi dengan mayoritas penduduk beragama Islam Syiah. Kendati demikian, setelah berpuluh-puluh tahun berada di bawah naungan Uni Soviet, Azerbaijan tumbuh menjadi salah satu negara paling sekuler di dunia Muslim.
Pemerintah Baku secara ketat membatasi kegiatan peribadatan guna mengantisipasi penyebaran paham radikal, meskipun langkah penegakan hukum tersebut kerap menuai kritik atas dugaan persekusi terhadap umat Muslim taat.
Ketegangan mengenai aturan busana keagamaan di lembaga pendidikan bukan pertama kali terjadi. Pada kurun waktu 2010 hingga 2012, pembatasan Hijab sempat memicu gelombang demonstrasi serupa sebelum akhirnya dibubarkan secara tegas oleh aparat kepolisian.
Di bawah kepemimpinan Presiden Ilham Aliyev, kegiatan berkumpul di ruang publik diatur secara ketat, situasi yang kerap mendatangkan kritik dari negara-negara Barat terkait penanganan terhadap kelompok oposisi dan media independen.










