TVRINews – Washington DC
Washington menekan Beijing dan sekutu global untuk mengisolasi Teheran secara total, menggeser strategi dari aksi militer ke sanksi komprehensif.
Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan eskalasi kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran, untuk melumpuhkan stabilitas pemerintahan di Teheran, di tengah kebuntuan konflik militer yang telah berlangsung selama enam bulan.
Dalam sebuah pernyataan kebijakan luar negeri AS, Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan komitmen Washington untuk menerapkan isolasi ekonomi paling komprehensif dalam sejarah modern. Ia menegaskan bahwa seluruh negara di dunia kini dihadapkan pada pilihan posisi yang tegas.
"Strategi ini akan membuahkan hasil di Iran dan kami bertekad meruntuhkan rezim tersebut," ujar Bessent dalam wawancara dengan CNBC Internasional Kamis 20 Agustus 2026. Ia menambahkan bahwa rincian teknis mengenai mekanisme isolasi ekonomi ini akan dipaparkan lebih lanjut dalam konferensi pers yang dijadwalkan pada hari Senin 24 Agustus 2026 mendatang.
Presiden Donald Trump, melalui platform Truth Social, menyebut kebijakan ini sebagai "operasi ekonomi paling menghancurkan" yang pernah diterapkan terhadap sebuah negara. Langkah ini dinilai sebagai upaya Gedung Putih untuk keluar dari tekanan domestik terkait biaya perang yang membebani kas negara serta kebutuhan politik menjelang pemilihan paruh waktu.
Pergeseran Strategi: Dari Militer ke Ekonomi
Para analis Internasionla menilai bahwa pergeseran fokus dari konfrontasi militer langsung ke perang ekonomi bertujuan untuk memitigasi risiko eskalasi kinetik yang lebih luas. Wakil Presiden JD Vance, dalam sebuah siniar bersama The Clay Travis & Buck Sexton Show, mengonfirmasi bahwa konflik kini memasuki fase baru.
"Kami telah beralih ke fase di mana tekanan ekonomi adalah instrumen yang paling efektif," jelas Vance. Ia mengakui bahwa strategi ini merupakan kebijakan yang sangat kompleks, mengingat adanya risiko balasan ekonomi dari Teheran yang dapat berdampak pada kepentingan Amerika sendiri.
Tantangan Terhadap Beijing
Salah satu titik krusial dalam kebijakan ini adalah keterlibatan Tiongkok, yang saat ini berstatus sebagai pembeli minyak terbesar Iran. Meskipun Washington memilih untuk melakukan pembicaraan tertutup mengenai hal ini, pesan yang dikirimkan kepada Beijing sangatlah jelas: Tiongkok diharapkan untuk menyelaraskan kebijakannya dengan upaya isolasi global yang dipimpin AS.
Isu ini diperkirakan akan menjadi agenda utama saat Presiden Tiongkok Xi Jinping melawat ke Gedung Putih pada 24 September mendatang.
Hingga saat ini, Iran berhasil mempertahankan arus ekspor minyak melalui jaringan kapal tanker "bayangan" yang beroperasi di luar pengawasan internasional.
Kebuntuan di Timur Tengah
Di lapangan, situasi tetap menemui jalan buntu. Jalur pelayaran strategis Selat Hormuz masih berada dalam kendali parsial Iran, sementara Angkatan Laut AS terus memperkuat blokade tandingan.
Di tengah ketegangan tersebut, pergantian kekuatan militer tetap dilakukan. Kelompok tempur kapal induk USS George Washington telah tiba di Timur Tengah menggantikan USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya menuai kritik domestik terkait kendala logistik dan moral kru selama masa tugasnya yang diperpanjang sejak November 2025.
Sebagai respons atas kebijakan tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran melalui media pemerintah menolak keras langkah AS. Mereka menyebut sanksi tersebut sebagai bentuk "terorisme ekonomi" yang menyasar hak-hak dasar masyarakat sipil.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui unggahannya di platform X, melabeli manuver AS ini sebagai "D-Day Ekonomi" yang sengaja dilakukan untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis utang yang melanda Amerika Serikat.
Sementara itu, di tengah upaya diplomasi yang minim, Washington pada Kamis 20 Agustus 2026 kemarin memberikan persetujuan potensi penjualan pesawat pengisian bahan bakar senilai $4,5 miliar kepada Qatar. Hal ini dipandang sebagai upaya mempertahankan peran Qatar sebagai mediator kunci di tengah gejolak perang yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.










