TVRINews, Jakarta
Seni lukis Plein Air dinilai dapat menjadi ruang pertemuan sekaligus mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Jerman. Kesamaan cara kerja para seniman dari kedua negara menjadi salah satu kekuatan dalam membangun kolaborasi lintas budaya.
Hal tersebut disampaikan seniman asal Berlin, Jerman, Christopher Lehmpfuhl, usai kegiatan Artist Talk bertajuk "Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration" yang menjadi bagian dari pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Christopher mengatakan, terdapat kemiripan antara komunitas pelukis Plein Air di Jerman dengan para seniman yang ditemuinya di Indonesia. Para seniman sama-sama melakukan perjalanan ke berbagai tempat, melukis langsung di lokasi, kemudian memamerkan karya yang dihasilkan.
Menurutnya, kesamaan aktivitas tersebut membuat para seniman dari latar belakang negara yang berbeda dapat merasa lebih dekat karena memiliki pengalaman dan cara kerja yang serupa.
"Saya pikir bepergian ke negara lain dan menemukan orang-orang yang melakukan hal yang sama membuat Anda merasa sangat akrab," ujar Christopher kepada wartawan termasuk tvrinews.com usai kegiatan Artist Talk di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia mencontohkan komunitas Plein Air di Jerman yang diikutinya, Norddeutsche Realisten atau Realis Jerman Utara. Kelompok tersebut rutin bepergian ke berbagai lokasi untuk melukis secara langsung di tempat, sebelum kemudian menggelar pameran.
Kemudian Christopher menilai, pengalaman berkolaborasi dengan seniman Indonesia memberikan gambaran bahwa seni dapat menjadi bahasa bersama yang melampaui batas negara.
Menurutnya, meskipun seniman Indonesia dan Jerman dapat menghasilkan interpretasi berbeda ketika melukis objek atau pemandangan yang sama, perbedaan tersebut justru memperlihatkan keberagaman perspektif dalam seni.
"Menurut saya menarik melihat bagaimana mereka terinspirasi oleh motif
yang sama, tetapi menafsirkannya dengan cara yang berbeda," ucapnya.
Sebagai informasi, pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration merupakan kolaborasi SBY Art Community bersama sejumlah institusi seni, yakni ISI Yogyakarta, ISI Solo, ITB, dan IKJ, serta seniman internasional Christopher Lehmpfuhl. Pameran berlangsung pada 18 hingga 30 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Oesman Effendi, TIM.
Sekitar 150 karya ditampilkan dalam pameran tersebut, termasuk karya Susilo Bambang Yudhoyono, Christopher Lehmpfuhl, para perupa dari berbagai institusi seni di Indonesia, serta seniman cilik.
Sebelumnya, dalam opening ceremony pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration, mewakili Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY mengatakan, kolaborasi seniman Indonesia dengan seniman asal Berlin, Christopher Lehmpfuhl, dapat memperkuat hubungan Jakarta dan Berlin yang berstatus sebagai sister city.
AHY menilai seni memiliki kemampuan untuk menjembatani perbedaan, memoderasi, sekaligus mendamaikan hubungan antarmanusia dan antarbangsa.
"Mudah-mudahan hubungan baik antara kedua kota, antara kedua negara, bisa dijembatani melalui kolaborasi semacam ini," kata AHY.










