TVRINews – Washington DC
Kebijakan Kontroversial Trump Tuai Kritik Publik Akibat Biaya Tinggi
Kehadiran ribuan tentara Garda Nasional di jalanan Washington D.C. kerap menuai tanda tanya besar di tengah masyarakat. Kebijakan yang digagas oleh Presiden Donald Trump ini memakan biaya operasional yang fantastis, mencapai sekitar 1,65 juta dolar Amerika Serikat per hari, atau setara dengan puluhan miliar rupiah.
Namun, di balik seragam tempur dan patroli rutin mereka di kawasan wisata, data pengadilan menunjukkan bahwa keterlibatan mereka dalam penanganan kriminalitas sangat minim.
Berdasarkan investigasi mendalam yang dirilis oleh Reuters kamis 20 Agustus 2026, tentara Garda Nasional hanya disebut dalam sekitar 1,3 persen dari total kasus kriminal yang diproses di Pengadilan Tinggi Distrik Kolombia sejak Agustus tahun lalu.
Bahkan, dalam sejumlah insiden, para prajurit tersebut justru tercatat sebagai korban kejahatan ketimbang pihak yang melumpuhkan pelaku kriminal.
Jumlah personel militer yang dikerahkan kini mencapai sekitar 4.500 prajurit, melampaui jumlah personel kepolisian kota yang sebanyak 3.200 orang. Administrasi kepresidenan berkomitmen untuk mempertahankan pasukan ini hingga akhir masa jabatan presiden pada 2029 dengan estimasi total anggaran menembus 1,4 miliar dolar.
Kendati demikian, berbagai pihak menilai efektivitas kebijakan ini patut dipertanyakan karena fokus patroli cenderung berada di kawasan elit dan aman, alih-alih di wilayah rawan kejahatan.
Gisela, seorang warga setempat, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap militerisasi ruang publik ibu kota. "Ini bukan cara melindungi ibu kota negara demokrasi, dengan mengerahkan tentara berpatroli di jalanan," ujarnya menggambarkan kegelisahan warga.
Di sisi lain, para pendukung kebijakan ini, termasuk pihak Gedung Putih, berpendapat bahwa visibilitas militer mampu memberikan efek deterens atau pencegahan terhadap tindak kriminalitas serta memperindah wajah kota. Juru bicara Gedung Putih, Lauren Bis, menyatakan bahwa upaya tersebut telah berhasil menekan angka kejahatan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Namun, kritik pedas datang dari berbagai kalangan, termasuk pensiunan jenderal bintang dua. Purnawirawan Jenderal Randy Manner menegaskan bahwa kehadiran tentara bersenjata di jalanan sipil tidak menyelesaikan akar permasalahan. "Anda tentu tidak menginginkan tentara bersenjata di jalanan Amerika," tegasnya, menyoroti bahwa militer tidak dipersiapkan secara spesifik untuk tugas-tugas kepolisian harian.
Meskipun angka pembunuhan di Washington sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tren serupa juga terjadi di kota-kota lain yang tidak menerima penempatan pasukan militer. Hal ini semakin memperkuat argumen para pakar kebijakan publik bahwa kehadiran Garda Nasional belum tentu menjadi faktor utama penurun tingkat kriminalitas perkotaan.










