TVRINews – New York
Pertemuan tertutup di Gracie Mansion memunculkan dinamika politik baru antara Gedung Putih dan kepemimpinan Kota New York.
Dinamika politik Amerika Serikat memperlihatkan momen yang tidak biasa ketika Presiden dari Partai Republik menyampaikan apresiasi terbuka kepada seorang pemimpin sosialis demokrat.
Donald Trump menyatakan harapannya agar Zohran Mamdani dapat menjadi Wali Kota New York yang sukses, usai keduanya melangsungkan pertemuan tertutup di Gracie Mansion, Senin.
Pertemuan yang berlangsung senin 21 september tersebut menjadi lawatan kepresidenan pertama ke kediaman resmi bersejarah di tepi sungai tersebut dalam kurun waktu 45 tahun terakhir, sejak kunjungan Ronald Reagan pada 1981. Pertemuan ini berlangsung sehari sebelum pidato presiden di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Meski kerap berseteru dalam retorika kampanye nasional, gestur kedua tokoh tampak cair dan bersahabat di hadapan publik.
"Saya tentu berharap dia akan menjadi wali kota yang hebat. Anda harus paham, saya menginginkan yang terbaik untuk New York dan negara ini," ujar Trump dalam konferensi pers bersama.
Mamdani, wali kota Muslim pertama New York yang lahir di Uganda, menyatakan bahwa diskusi tersebut mencakup isu-isu krusial seperti perumahan terjangkau dan kebijakan imigrasi. Ia menegaskan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan pihak mana pun demi kepentingan warga kota.
"Presiden dan saya telah berbicara secara terbuka mengenai berbagai perbedaan pandangan di antara kami," kata Mamdani. Ia juga mengangkat isu pelindungan bagi imigran asal Haiti yang menjadi bagian penting dari perekonomian kota.
Di sisi lain, Trump memuji potensi kepemimpinan politikus berusia 34 tahun tersebut, sebuah kontras tajam dari serangan politik sebelumnya yang kerap menargetkan kubu progresif.
Pertemuan ini turut dihadiri oleh Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles serta Kepala Staf Wali Kota Elle Bisgaard-Church, menandai babak baru komunikasi politik lintas faksi di tingkat lokal dan nasional.










