TVRINews – Riyard
Ibu kota Arab Saudi diguncang serangan rudal balistik, meningkatkan ketegangan regional dan ancaman terhadap fasilitas energi global.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam menyusul klaim kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang melancarkan serangan terpadu menggunakan pesawat nirawak dan rudal balistik.
Sasaran utama dari aksi militer ini mencakup wilayah ibu kota Arab Saudi, Riyadh, serta sejumlah instalasi vital sektor energi yang terletak di sepanjang pesisir Laut Merah.
Berdasarkan laporan resmi dari pihak berwenang Arab Saudi sabtu 19 september 2026, sistem pertahanan udara berhasil mencegat serta menghancurkan sebuah rudal balistik yang diarahkan ke Riyadh pada Sabtu.
Kendati demikian, insiden tersebut memicu kepanikan warga setelah kepulan asap hitam terlihat membubung tinggi dari area fasilitas penyimpanan bahan bakar di dekat bandara internasional setempat. Situasi ini turut berimbas pada terganggunya jadwal penerbangan komersial secara temporer.
Peringatan darurat melalui sistem alarm pertahanan udara kembali menggema di ibu kota. Peristiwa ini menandai eskalasi baru sejak kelompok Houthi meningkatkan intensitas serangan lintas batas terhadap wilayah kedaulatan Arab Saudi dalam beberapa bulan terakhir.
Menanggapi situasi yang kian memanas, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan imbauan mendesak bagi seluruh warganegara Amerika di kawasan tersebut. Pemerintah AS meminta agar publik meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pembatalan penerbangan dan gangguan perjalanan lanjutan.
"Pendukung Houthi dari Iran telah terlibat dalam aksi permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk menyerang bandara sipil. Konflik militer ini memiliki potensi untuk meningkat dengan cepat," tulis pernyataan resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, seraya menegaskan bahwa warga Amerika harus mempertimbangkan secara serius perjalanan ke dan melalui kawasan tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Militer Houthi, Yahya al-Sarea, menyatakan melalui siaran daring bahwa pihaknya mengerahkan sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, serta drone guna menyerang target-target sensitif di Riyadh.
Selain itu, fasilitas milik perusahaan minyak nasional Aramco di kota pesisir Yanbu turut menjadi sasaran. Menurut Sarea, serangan tersebut merupakan bentuk pembalasan atas rangkaian operasi militer yang dilancarkan koalisi pimpinan Saudi di Yaman.
Konflik berkepanjangan ini melibatkan kelompok Houthi yang berhadapan dengan pemerintah sah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung penuh oleh koalisi pimpinan Arab Saudi.
Di sisi lain, eskalasi militer di lapangan terus memakan korban jiwa dari kedua belah pihak, sementara badan-badan kemanusiaan internasional melaporkan lonjakan signifikan jumlah warga sipil yang terpaksa mengungsi akibat pertempuran.
Dampak geopolitik dari krisis ini juga dirasakan oleh pasar keuangan global. Raksasa perbankan investasi JPMorgan menyampaikan kepada para investor bahwa ketidakpastian pasokan energi akibat perang di kawasan tersebut semakin sulit diprediksi, mengingat vitalnya jalur pelayaran Laut Merah bagi distribusi minyak dunia.










