TVRINews – Jenewa
Organisasi Kesehatan Dunia Meminta Akses Obat-obatan Tanpa Hambatan di Tengah Krisis Infrastruktur Air
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan seruan mendesak untuk segera memasukkan obat-obatan dan pasokan medis esensial ke Jalur Gaza yang terkepung.
Srrua WHO ini dipandang krusial guna memicu pemulihan layanan kesehatan dalam skala besar di wilayah yang terdampak konflik tersebut.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa pihaknya telah mendukung pembangunan pusat kesehatan keluarga baru di Gaza utara.
Wilayah ini menjadi titik paling kritis di mana akses terhadap layanan medis sangat terbatas.
"Pusat ini akan memberikan layanan kesehatan esensial, termasuk manajemen penyakit tidak menular, kesehatan ibu dan anak, vaksinasi rutin, perawatan luka, hingga rehabilitasi fisik dasar," ujar Tedros melalui pernyataan resminya di platform X, Jumat 1 Mei 2026.
Ia menekankan bahwa kebutuhan medis di seluruh Gaza tetap masif. Untuk bergerak melampaui respons penyelamatan nyawa darurat, WHO menuntut penghapusan hambatan birokrasi dan pembatasan akses terhadap obat-obatan yang diakui secara global.
Tedros juga mendesak percepatan masuknya suku cadang untuk peralatan medis dan generator listrik yang menjadi jantung operasional rumah sakit.
Krisis Kemanusiaan dan Senjata Air
Laporan lapangan menunjukkan kondisi yang kian memburuk bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza yang mengungsi.
Sebagian besar warga kini bertahan hidup di tenda-tenda darurat atau reruntuhan bangunan. Selain kelangkaan obat, krisis air bersih menjadi ancaman mematikan yang menghantui warga sipil.
Lembaga medis internasional, Médecins Sans Frontières (MSF), dalam laporan sanitasi terbarunya, melontarkan tuduhan serius terhadap penggunaan air sebagai instrumen konflik.
MSF menuduh adanya upaya sistematis dalam mencabut hak dasar masyarakat atas air bersih, yang mereka sebut sebagai kampanye hukuman kolektif.
Senada dengan MSF, Human Rights Watch (HRW) juga mengajukan tuduhan serupa terkait blokade sumber daya vital ini.
Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hampir 90 persen infrastruktur air di Gaza, termasuk pabrik desalinasi dan fasilitas pengolahan limbah, telah hancur.
Kerusakan ini memaksa mayoritas penduduk bergantung pada distribusi air manual yang sangat terbatas.
Wash Cluster, jaringan organisasi non-pemerintah yang dipimpin PBB, memperkirakan bahwa saat ini 80 persen warga Gaza sepenuhnya bergantung pada air yang dikirimkan melalui truk ke titik-titik distribusi pusat.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada Oktober lalu dengan jaminan peningkatan bantuan, badan-badan bantuan internasional menegaskan bahwa pasokan yang mencapai Gaza masih jauh dari kata mencukupi untuk memenuhi standar kemanusiaan minimum.










