TVRINews – Tyre
Eskalasi militer terus berlanjut di wilayah selatan meski kesepakatan gencatan senjata masih berjalan.
Serangkaian serangan udara yang diluncurkan militer Israel kembali mengguncang wilayah Lebanon selatan pada Jumat 1 Mei 2026, mengakibatkan sedikitnya 12 orang tewas, termasuk seorang anak-anak. Insiden ini menambah panjang daftar korban jiwa di tengah rapuhnya implementasi gencatan senjata yang seharusnya meredam konflik di perbatasan.
Laporan dari distrik Nabatieh menyebutkan bahwa serangan paling mematikan terjadi di desa Habboush.
Otoritas setempat mengonfirmasi delapan orang kehilangan nyawa dalam satu serangan tunggal yang juga melukai delapan warga lainnya, termasuk wanita dan anak-anak.
Koresponden media internasional di lapangan menggambarkan kondisi yang memprihatinkan pasca-ledakan. Tim Pertahanan Sipil Lebanon kini berpacu dengan waktu menyisir puing-puing bangunan yang rata dengan tanah.
"Kami melihat dampak dari rangkaian serangan udara masif yang menghancurkan satu kawasan pemukiman warga. Rekaman visual dari lokasi menunjukkan kehancuran total; bangunan-bangunan benar-benar rata," lapor Obaida Hitto dari Al Jazeera yang meliput langsung di Tyre.
Pola Serangan yang Meluas
Selain di Habboush, serangan juga dilaporkan melanda enam lokasi lainnya di Lebanon selatan.
Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan tambahan empat korban jiwa dalam serangan yang terjadi di sekitar area Tyre dan Nabatieh.
ak hanya menyasar pemukiman, infrastruktur sipil seperti sekolah, biara, dan rumah-rumah penduduk dilaporkan turut hancur akibat gempuran tersebut.
Militer Israel sebelumnya telah mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi penduduk Habboush, wilayah yang terletak di utara Sungai Litani.
Melalui unggahan di media sosial, juru bicara militer berbahasa Arab, Avichay Adraee, menginstruksikan warga untuk menjauh minimal 1.000 meter dari lokasi target sebelum bom dijatuhkan.
Namun, serangan serupa pada hari sebelumnya dilaporkan terjadi tanpa adanya peringatan dini kepada warga sipil.
Realitas di Balik Gencatan Senjata
Secara resmi, Israel menyatakan bahwa operasi militer ini ditujukan untuk melemahkan infrastruktur kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Namun, data di lapangan menunjukkan proporsi korban jiwa yang signifikan berasal dari kalangan warga sipil.
"Kami terus menyaksikan strategi yang sama diterapkan di seluruh penjuru negeri," tambah Hitto dalam laporannya.
Sejak Maret 2026, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diupayakan, eskalasi kekerasan tetap tidak terhindarkan. Data statistik mencatat lebih dari 2.600 orang telah tewas di Lebanon dalam kurun waktu tersebut.
Hanya dalam waktu 24 jam terakhir pada hari Kamis, sedikitnya 28 orang dilaporkan tewas, menandakan bahwa stabilitas keamanan di wilayah tersebut masih jauh dari harapan.
Hingga berita ini diturunkan, komunitas internasional terus memantau perkembangan di Lebanon selatan, di tengah kekhawatiran akan runtuhnya kesepakatan damai yang sedang diupayakan oleh mediator regional.










