TVRINews - Washington DC
Retaknya Aliansi NATO: Washington Incar Roma dan Madrid
Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan sekutu Eropanya Menghadapi konflik yang cukup panas.
Presiden Donald Trump secara terbuka melontarkan ancaman untuk menarik mundur pasukan militer AS dari Italia dan Spanyol.
Provokatif ini menyusul pernyataan serupa yang sebelumnya diarahkan kepada Jerman, mempertegas retaknya stabilitas keamanan di bawah payung NATO.
Dalam sebuah pernyataan di Ruang Oval, Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap kedua negara tersebut yang dianggap tidak suportif terhadap kepentingan strategis Washington, khususnya dalam eskalasi konflik dengan Iran dan pengamanan Selat Hormuz.
"Italia sama sekali tidak membantu kami, dan Spanyol sangat buruk, benar-benar buruk," cetus Trump kepada wartawan Jumat 1 Mei 2026.
Saat ditanya apakah ia akan benar-benar mempertimbangkan penarikan pasukan dari kedua negara itu,
Trump menjawab singkat namun tajam, "Mungkin saja. Mengapa tidak?"
Sentimen 'Kacang Lupa Kulit'
Trump menuduh bahwa selama ini Amerika Serikat telah memberikan perlindungan maksimal, namun ketika Washington membutuhkan dukungan militer untuk membuka kembali jalur pelayaran global di Selat Hormuz, para sekutunya justru "menghilang".

(Ilustrasi Grafis: TVRINews.com/FY)
Ia bahkan mengungkit bantuan AS di Ukraina sebagai bukti kontribusi besar Amerika yang dianggapnya tidak dibalas dengan kesetiaan yang setara oleh negara-negara Eropa.
Di Italia, terdapat sekitar 13.000 personel militer AS yang tersebar di beberapa pangkalan strategis.
Sementara di Spanyol, kehadiran militer AS berpusat di pangkalan angkatan laut Rota dan pangkalan udara Morón.
Penarikan pasukan secara masif dari titik-titik krusial ini diprediksi akan mengubah peta geopolitik Mediterania secara drastis.
Respons Keras dari Eropa
Ancaman ini segera memicu gelombang reaksi di benua biru. Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, membantah keras klaim Trump dan menyatakan bahwa Roma selalu berkontribusi dalam menjaga keamanan maritim internasional.
Di sisi lain, para analis memandang ancaman Trump sebagai strategi tekanan politik untuk memaksa anggota NATO meningkatkan belanja militer mereka.
Meski demikian, langkah Trump ini dipastikan tidak akan berjalan mulus.
Berdasarkan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) tahun 2024, Presiden AS dilarang menurunkan jumlah pasukan di Eropa di bawah ambang batas tertentu tanpa persetujuan Kongres.










