TVRINews – Washington
Eskalasi Ketegangan Dagang: AS Berlakukan Tarif 25 Persen untuk Mobil dan Truk Asal Eropa Mulai Pekan Depan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan peningkatan tarif impor untuk kendaraan mobil dan truk dari Uni Eropa (UE) menjadi 25 persen.
Keputusan Trump ini menandai eskalasi tajam dalam hubungan perdagangan transatlantik antara Washington dan Brussels.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Jumat waktu setempat, Trump menuduh Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan dagang yang telah disetujui sebelumnya.
Meski demikian, ia tidak memberikan rincian spesifik mengenai poin pelanggaran yang dimaksud.
"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa... mulai pekan depan, saya akan meningkatkan tarif yang dikenakan kepada Uni Eropa untuk mobil dan truk," tulis Trump Sabtu 1 2 Mei 2026.
Respons Keras dari Brussels
Komisi Eropa segera memberikan tanggapan dengan menyatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen pada kesepakatan yang ada, namun siap mengambil langkah tegas untuk melindungi kepentingan anggota.
"Kami akan tetap membuka seluruh opsi untuk melindungi kepentingan Uni Eropa," ujar juru bicara Komisi Eropa.
Pihaknya menegaskan telah menjalankan komitmen sesuai praktik legislatif standar dan terus memberikan informasi terbaru kepada administrasi AS.
Sektor otomotif yang menjadi sasaran Trump merupakan pilar vital bagi ekonomi Eropa. Langkah ini memicu kekhawatiran besar mengingat manufaktur mobil menyumbang proporsi signifikan dalam produk domestik bruto (PDB) kawasan tersebut.
Kegagalan Diplomasi dan Konflik Geopolitik
Ketegangan ini sebenarnya merupakan akumulasi dari rentetan konflik diplomatik dalam setahun terakhir.
Sebelumnya, kedua belah pihak sempat mencapai kesepakatan di lapangan golf Turnberry milik Trump di Skotlandia, yang menetapkan pajak sebesar 15 persen.
Namun, hubungan memburuk setelah munculnya ancaman AS untuk menganeksasi Greenland, wilayah otonom Denmark.
Ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa, Bernd Lange, mengkritik keras sikap Washington.
Kepada BBC, Lange menyatakan bahwa tindakan Trump menunjukkan betapa tidak dapat diandalkannya AS sebagai mitra dagang.
"Perilaku Presiden Trump tidak dapat diterima. Langkah terbaru ini menunjukkan betapa tidak dapat diandalkannya pihak AS. Kita telah menyaksikan serangan sewenang-wenang ini dalam kasus Greenland; ini bukan cara memperlakukan mitra dekat," tegas Lange.
Tuntutan Relokasi Produksi
Dalam narasinya, Trump mendesak produsen mobil Eropa untuk memindahkan pabrik mereka ke tanah Amerika guna menghindari beban pajak tersebut.
"Telah dipahami dan disepakati sepenuhnya bahwa jika mereka memproduksi mobil dan truk di pabrik-pabrik AS, maka tidak akan ada tarif," ungkap Trump dalam unggahannya.
Ia mengklaim bahwa saat ini investasi miliaran dolar sedang mengalir ke pabrik-pabrik otomotif di seluruh penjuru negeri, yang ia sebut sebagai "rekor dalam sejarah manufaktur."
Profesor Simon Evenett, pakar perdagangan dari IMD Business School, memberikan catatan kritis terkait pengumuman yang dilakukan via media sosial ini.
"Mereka yang menganggap pemerintahan (AS) ini tidak bisa memegang teguh kesepakatan apa pun akan merasa dibenarkan.
Namun perlu diingat, unggahan media sosial bukanlah hukum. Brussels akan menunggu rincian tertulis sebelum memutuskan untuk membalas," ujarnya kepada BBC.
Berbeda dengan kebijakan tarif "Hari Pembebasan" (Liberation Day) sebelumnya yang dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung AS, tarif sektor otomotif ini menggunakan proses hukum yang berbeda, sehingga diperkirakan tidak akan terpengaruh oleh putusan pengadilan tersebut dalam waktu dekat.










