TVRINews – Kyiv
Moskow luncurkan serangan udara besar-besaran, targetkan infrastruktur energi di lima kota.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump untuk segera mengirimkan pasokan rudal pertahanan udara Patriot.
Permintaan mendesak ini menyusul gelombang serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) Rusia yang menewaskan sedikitnya 18 orang di lima kota besar Ukraina pada Selasa 2 Juni 2026 pagi waktu setempat.
Gubernur Wilayah Dnipro, Oleksandr Hanzha, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menghancurkan sebuah blok apartemen dan menewaskan 12 orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Sementara itu, otoritas ibu kota Kyiv melaporkan enam korban jiwa akibat runtuhnya sejumlah infrastruktur sipil.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip The Guardian, Presiden Zelensky mengungkapkan bahwa Moskow telah meluncurkan total 656 drone tempur dan 73 rudal dari berbagai jenis, termasuk rudal balistik dan antikapal, dalam satu malam.
"Kami sangat membutuhkan bantuan dari Amerika Serikat untuk memasok rudal bagi sistem Patriot," ujar Zelensky, merujuk pada perangkat keras yang krusial untuk mengintersepsi proyektil Rusia.
Krisis pasokan rudal Patriot bagi Ukraina kian meruncing akibat eskalasi konflik global, termasuk ketegangan antara AS-Israel dengan Iran. Kebijakan pemerintahan Trump yang menangguhkan pasokan militer langsung ke Kyiv memaksa sekutu Eropa membeli sistem persenjataan tersebut dari AS terlebih dahulu sebelum meneruskannya ke Ukraina.
Balasan Atas Serangan Kyiv
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa operasi udara masif ini merupakan respons langsung terhadap serangan Ukraina sebelumnya. Pihak Moskow mengeklaim seluruh target operasi telah berhasil dicapai.
Pekan lalu, Kremlin sempat memperingatkan akan melakukan serangan sistematis setelah menuduh Kyiv menyerang asrama mahasiswa di wilayah timur Ukraina yang diduduki Rusia.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengimbau warga untuk tetap berada di posko pengungsian di tengah pemadaman listrik massal yang melanda kota akibat rusaknya fasilitas energi.
Sentimen keputusasaan mulai membayangi warga sipil setelah serangkaian serangan tanpa henti pasca-berakhirnya gencatan senjata singkat pada Mei lalu.
"Saya selalu pergi ke metro (stasiun bawah tanah)... sangat menakutkan jika tetap tinggal di rumah," ujar seorang warga Kyiv berusia 32 tahun kepada kantor berita Reuters.
Warga lainnya, Leonid Zmiievskyi (71), menilai tekanan internasional terhadap Moskow masih belum cukup kuat untuk menghentikan perang. "Meskipun bantuan datang dari Barat, saya rasa mereka tidak banyak membantu. Jika tekanan internasional lebih kuat, saya pikir ini semua akan selesai lebih cepat," tuturnya.
Pihak Kyiv menegaskan bahwa serangan balasan mereka ke wilayah Rusia merupakan tindakan yang sepenuhnya dapat dibenarkan, seraya menyebut ancaman sistematis dari Kremlin sebagai bentuk pemerasan yang tidak tahu malu.










