TVRINews – Washington DC
Presiden AS Mengaku Telah Berkomunikasi dengan Benjamin Netanyahu dan Mediator Lebanon guna Menghentikan Eskalasi Militer di Beirut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Israel dan Hezbollah telah sepakat untuk meredakan intensitas pertempuran menyusul dialog langsung yang dilakukannya dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, serta komunikasi melalui mediator dengan kelompok militan Lebanon tersebut.
Pengumuman ini disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial setelah melakukan panggilan telepon dengan Netanyahu, di tengah pergerakan pasukan Israel yang melakukan inkursi terdalam ke wilayah Lebanon dalam lebih dari seperempat abad terakhir.
Menurut Trump, tidak akan ada lagi pergerakan tentara Israel menuju ibu kota Lebanon. "Tidak akan ada pasukan yang menuju Beirut, dan setiap pasukan yang sedang dalam perjalanan telah diperintahkan untuk berbalik arah," ujar Trump Senin 1 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa pihak Hezbollah juga telah menyepakati gencatan senjata bilateral. "Hezbollah telah setuju bahwa semua aksi saling tembak akan dihentikan bahwa Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel," lanjutnya.
Respons Kontras dari Yerusalem dan Beirut
Meskipun membenarkan adanya percakapan tersebut, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan interpretasi yang lebih bernada peringatan ketimbang penahanan diri. Netanyahu menegaskan kepada Trump bahwa Israel tidak akan ragu untuk menghantam target-target di Beirut jika serangan Hezbollah terus berlanjut.
"Militer Israel akan terus beroperasi sesuai rencana di wilayah Lebanon selatan," tegas Netanyahu dalam keterangan resminya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi langsung dari pihak Hezbollah mengenai klaim kesepakatan tersebut.
Ketegangan ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang sebenarnya telah berlangsung sejak pertengahan April. Namun, stabilitas tersebut runtuh setelah Hezbollah melanjutkan serangan sebagai respons atas operasi militer Israel di Lebanon, yang diklaim Tel Aviv sebagai langkah membela diri (self-defense).
Eskalasi ini juga menjadi kerikil tajam bagi negosiasi kesepakatan yang lebih luas untuk memperpanjang gencatan senjata dalam perang Iran. Teheran secara konsisten menuntut agar setiap perjanjian bilateral turut mencakup wilayah Lebanon.
Berdasarkan dokumen dari Kedutaan Besar Lebanon di AS, otoritas Lebanon sebelumnya telah mengamankan persetujuan Hezbollah terkait proposal yang diajukan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Proposal tersebut mengatur agar Israel tidak menyerang pinggiran selatan Beirut, sementara Hezbollah berkomitmen untuk tidak menggempur wilayah utara Israel.
Eskalasi di Lapangan Jelang Dialog Washington
Ironisnya, sesaat setelah pernyataan optimistis Trump dirilis, radar Israel mendeteksi peluncuran rudal dari arah Lebanon, yang memicu instruksi bagi warga di Israel utara untuk segera mencari perlindungan.
Konflik bersenjata juga terus membara di garis depan. Serangan udara Israel di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan enam orang, termasuk seorang warga negara Suriah di dekat kota Nabatiyeh. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan kerusakan parah pada Rumah Sakit Jabal Amel di kota pelabuhan Tyre akibat serangan udara.
Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi keberhasilan sistem pertahanan udara mereka dalam mencegat dua proyektil dari Lebanon serta satu target udara mencurigakan di zona operasi pasukan mereka. Hezbollah mengklaim telah menyerang posisi pasukan Israel di Zawtar al-Sharqieh serta infrastruktur militer di Tiberias.
Situasi panas ini membayangi persiapan dialog langsung antara delegasi Israel dan Lebanon yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada Selasa dan Rabu ini. (2-3 Juni 2026) Melalui perundingan yang dimediasi AS tersebut, para negosiator Lebanon berharap dapat memperluas cakupan wilayah aman demi mencapai gencatan senjata total.
Dilema Diplomatik dan Dampak Kemanusiaan
Meskipun tensi kian mendidih, Beirut menyatakan tetap berkomitmen pada jalur diplomasi.
"Beirut tetap berkomitmen mengadakan pembicaraan untuk mengakhiri konflik ini," ujar seorang pejabat diplomatik Lebanon kepada The Associated Press yang berbicara dengan syarat anonim.
Namun, posisi Lebanon ini beririsan dengan dinamika regional yang kompleks. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan posisi Teheran melalui platform X bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Washington bersifat menyeluruh. "Pelanggaran di satu front adalah pelanggaran terhadap gencatan senjata di semua front, termasuk Lebanon," tulis Araghchi.
Di tingkat internasional, Asisten Sekretaris Jenderal PBB, Martha Pobee, dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan mengingatkan bahwa pergerakan militer Israel telah melanggar integritas teritorial Lebanon dan Resolusi Dewan Keamanan tahun 2006. Di saat yang sama, Pobee juga menyoroti pelanggaran resolusi oleh Hezbollah yang menolak melucuti senjata, seraya mendesak kelompok tersebut bekerja sama dengan otoritas resmi Lebanon.
Sejauh ini, gelombang pertempuran terbaru antara Israel dan Hezbollah telah merenggut sedikitnya 3.433 korban jiwa di Lebanon dan memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi dari kediaman mereka. Di pihak Israel, kantor perdana menteri melaporkan setidaknya 26 tentara, satu kontraktor pertahanan, dan dua warga sipil tewas akibat serangan di perbatasan.










