TVRINews – Bunia
Varian Baru, Pemotongan Dana Bantuan, dan Konflik Bersenjata Memperparah Krisis Wabah
Gelombang ketakutan kini tengah mencengkeram Republik Demokratik Kongo (DRC). Sejumlah lembaga kemanusiaan dan tenaga medis di lapangan mengeluarkan peringatan keras bahwa sistem kesehatan negara tersebut kini berada di ambang kolaps akibat lonjakan kasus Ebola yang menyebar jauh lebih cepat daripada data resmi yang tercatat.
Laporan langsung dari kota Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, menunjukkan situasi yang kian kritis. Trish Newport, Manajer Program Darurat dari organisasi Médecins Sans Frontières (MSF), mengungkapkan bahwa timnya mendapati rumah sakit lokal sama sekali tidak lagi memiliki ruang isolasi yang tersisa.
"Setiap fasilitas kesehatan yang mereka hubungi mengatakan: 'Kami penuh dengan kasus suspek. Kami tidak punya ruang lagi.' Ini memberikan gambaran betapa kacaunya situasi saat ini," ujar Newport melalui pernyataan di media sosialnya sabtu 23 Mei 2026.
Wabah ke-17 di Kongo ini membawa kecemasan berlipat. Berbeda dengan epidemi sebelumnya, kali ini petugas medis harus berhadapan dengan virus Ebola galur (strain) Bundibugyo, yang hingga saat ini belum memiliki vaksin atau metode pengobatan resmi yang disetujui. Sejak korban pertama dilaporkan meninggal di Bunia pada 24 April lalu, tercatat hampir 750 kasus suspek dan 177 kematian.
Akumulasi Krisis dan Pemotongan Dana Barat

(Unit isolasi portabel di kota Bunia (Foto: Jérôme Delay/AP))
Berdasarkan analisis para pakar, cepatnya penularan didorong oleh kombinasi fatal antara karakteristik geografis yang terisolasi, konflik bersenjata, dan pemotongan anggaran bantuan kemanusiaan global termasuk kebijakan pemangkasan dana bantuan luar negeri oleh pemerintah Amerika Serikat.
Tantangan di lapangan kian rumit karena wilayah episentrum berada di zona konflik. Data dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menunjukkan bahwa lebih dari setengah fasilitas kesehatan di Provinsi Kivu Utara dan Selatan telah rusak atau hancur. Ditambah lagi, hampir separuh tenaga medis memilih pergi sejak awal tahun akibat masalah keamanan.
"Kami menghadapi dua perang sekaligus: perang senjata dan perang melawan wabah penyakit," keluh Zawadi Jeanne, seorang warga lokal yang kehilangan anggota keluarganya akibat serangan kelompok militan Allied Democratic Forces (ADF).
Benturan Budaya dan Prosedur Medis
Upaya memutus rantai penularan juga membentur tradisi lokal. Di Rwampara, sebuah pusat pengobatan bahkan sempat dibakar massa setelah otoritas setempat menolak menyerahkan jenazah pasien Ebola.
Dalam tradisi masyarakat setempat, prosesi pemakaman melibatkan aktivitas memandikan dan menyentuh jenazah praktik yang sangat berbahaya mengingat jenazah korban Ebola memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.
Merespons resistensi ini, Batakura Zamundu Mugeni, seorang kepala adat di Rwampara, menyatakan kepada Agence France-Presse bahwa pihaknya terus mendampingi petugas kesehatan untuk melacak pasien dan kontak erat yang melarikan diri saat kerusuhan.
Menurutnya, insiden tersebut dipicu oleh ketidakpahaman sebagian kelompok pemuda terhadap realitas bahaya penyakit ini.
Pemerintah provinsi kini telah mengambil langkah drastis dengan melarang tradisi takziah, membatasi kerumunan maksimal 50 orang, dan menetapkan bahwa pemakaman hanya boleh dilakukan oleh tim medis khusus.
Optimalisasi Perawatan Tanpa Vaksin

(Ilustrasi Grafis: TVRINews.com (Sumber data : The Guardian))
Di tengah keterbatasan, para dokter yang berpengalaman dalam penanganan Ebola kini dikerahkan ke garda depan. Dr. Richard Kojan, dokter spesialis intensif dari lembaga bantuan Alima, menjelaskan bahwa strategi utama saat ini adalah mengoptimalkan perawatan intensif standar serta memperketat pelacakan kontak.
"Jika pasien masuk ke pusat perawatan lebih awal, beban virus (viral load) dalam tubuh mereka masih rendah. Dengan perawatan yang dioptimalkan, peluang mereka untuk selamat akan sangat tinggi," jelas Dr. Kojan dari Kinshasa sebelum bertolak ke Ituri.
Tim Alima juga mulai mengoperasikan Cube, sebuah unit perawatan portabel berbahan plastik transparan. Inovasi ini memungkinkan interaksi visual antara pasien, keluarga, dan tenaga medis tanpa mengharuskan dokter mengenakan alat pelindung diri (APD) penuh yang mengintimidasi, sekaligus menjaga aspek psikologis pasien.
Dr. Núria Carrera Graño, klinisi dari ICRC, merangkum situasi di Kongo sebagai krisis kemanusiaan, politik, dan keamanan yang terjadi akibat rentetan peristiwa buruk yang saling bertumpuk. "Kita tidak punya waktu untuk kalah. Kerja sama dan koordinasi internasional mutlak diperlukan sekarang," tegasnya.










