TVRINews, Pyongyang
Presiden Tiongkok Xi Jinping menyelesaikan lawatan kenegaraan dua hari di Pyongyang, menandai kunjungan resminya yang pertama sejak 2019 guna memperkuat ikatan historis di tengah dinamika geopolitik global.
Presiden Tiongkok Xi Jinping telah merampungkan kunjungan kenegaraan selama dua hari ke Pyongyang. Lawatan ini menjadi perjalanan resmi pertamanya ke Korea Utara sejak tahun 2019, di mana ia disambut dengan upacara karpet merah serta pertunjukan akrobatik yang megah oleh pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
Meski tidak ada kesepakatan konkret yang dihasilkan dari perjalanan tersebut, signifikansinya diakui secara luas oleh kedua belah pihak. Mengutip laporan dari kantor berita negara Korea Utara, KCNA Rabu 10 Juni 2026, Kim menyatakan bahwa keputusan Xi untuk memilih Pyongyang sebagai tujuan kunjungan kenegaraan pertamanya tahun ini menunjukkan "kepentingan yang sangat besar" yang diletakkan pada hubungan bilateral kedua negara.
Langkah diplomatik ini juga dinilai sebagai upaya Beijing untuk menegaskan kembali pengaruhnya atas Pyongyang. Tiongkok berkepentingan menjaga kedekatan dengan mitra strategisnya tersebut, terutama ketika Korea Utara belakangan ini terlihat semakin merapat ke Rusia.
Bagi Kim, kehadiran tamu kenegaraan tingkat tinggi (VIP) di negerinya memberikan pesan tersendiri. Kunjungan yang terjadi hanya beberapa minggu setelah Xi bertemu dengan pemimpin Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin ini, menunjukkan kepada dunia bahwa Pyongyang masih memiliki sekutu yang kuat di tengah bayang-bayang sanksi internasional yang berkelanjutan.
Komitmen Persahabatan dan Absennya Isu Denuklirisasi
Dalam sebuah jamuan makan malam kenegaraan pada hari Senin, Xi memuji hubungan baik kedua negara. Kantor berita Tiongkok, Xinhua, melaporkan pernyataan Xi yang menyebutkan bahwa Tiongkok dan Korea Utara "dihubungkan oleh gunung dan sungai, serta berbagi takdir yang sama."
Pernyataan tersebut disambut hangat oleh Kim. Ia menegaskan bahwa Korea Utara akan terus menjadikan persahabatannya dengan Tiongkok sebagai prioritas utama, seraya menegaskan kembali dukungannya terhadap prinsip "Satu Tiongkok" yang diusung Beijing. Kunjungan ini, menurut Kim, menjadi pengingat akan kuatnya persahabatan mereka bahkan di tengah "pergolakan urusan internasional."
Lebih lanjut, Xi menambahkan bahwa dirinya telah mencapai "konsensus penting" dengan Kim untuk "memahami tren zaman" serta memperdalam pertukaran tingkat tinggi dan ikatan antarwarga. Momen ini juga bertepatan dengan peringatan 65 tahun pakta pertahanan Tiongkok dan Korea Utara, yang merupakan satu-satunya pakta pertahanan yang dimiliki Tiongkok dengan negara mana pun.
Sebagai mitra politik dan ekonomi paling vital, Tiongkok merupakan urat nadi bagi Korea Utara yang tengah menghadapi sanksi berat terkait program senjata nuklirnya. Namun, di balik posisi Korea Utara yang sangat bergantung pada Tiongkok, Kim tampaknya berhasil mempertahankan pendiriannya pada satu isu krusial minggu ini.
Pembahasan mengenai denuklirisasi Korea Utara sama sekali tidak muncul dalam rilis media pemerintah terkait pembicaraan hari Senin. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah secara signifikan melunakkan seruannya terkait denuklirisasi di semenanjung Korea dan menghindari penyebutan isu tersebut di ruang publik.
Perbedaan Visi di Balik Kemegahan Diplomasi
Dalam lawatannya, Xi didampingi oleh sejumlah pejabat teras pemerintahannya, termasuk Kepala Staf Cai Qi, Menteri Pertahanan Dong Jun, Menteri Luar Negeri Wang Yi, dan Menteri Perdagangan Wang Wentao. Selama berada di Pyongyang, Xi menginap di Kumsusan State Guest House, sebuah kediaman eksklusif yang dilaporkan dibangun pada 2019 khusus untuk menyambut kunjungan kenegaraannya.

(Xi dan Kim menanam pohon cemara sebagai simbol persahabatan mereka yang abadi (Foto: XinHua))
Pada hari Selasa 9 Juni, kedua pemimpin mengunjungi Menara Persahabatan yang dibangun untuk mengenang tentara Tiongkok dalam Perang Korea. Xinhua melaporkan bahwa mereka juga menyempatkan diri menanam pohon cemara di sekolah kader elit Pyongyang, sebagai simbol persahabatan yang abadi.
Kendati pertunjukan publik yang mewah terus diperlihatkan, hal itu tidak sepenuhnya mampu menutupi perbedaan visi antara Beijing dan Pyongyang. Dalam pidatonya, Xi mengutarakan harapannya agar kunjungan ini dapat "bersama-sama membuka masa depan yang lebih cerah bagi tujuan sosialis kedua negara."
Pernyataan ini menyentuh isu yang cukup sensitif. Beijing telah lama mendorong Korea Utara untuk mengadopsi model kepemimpinan Tiongkok, yakni mempertahankan pemerintahan satu partai sembari membuka diri terhadap pasar, investasi asing, dan perdagangan internasional. Namun, Pyongyang tampaknya masih enggan mengambil rute tersebut.
"Elemen-elemen dalam laporan Tiongkok menunjukkan bahwa Presiden Xi mungkin merasa frustrasi," ujar Sydney Seiler, Ketua CSIS Korea, melalui platform media sosial X. Seiler mencatat bahwa Kim sama sekali tidak menyinggung proses pembangunan apa pun, dan menambahkan bahwa "Korea Utara masih menolak untuk belajar dari pengalaman pembangunan Tiongkok."










