TVRINews – Teheran
Teheran tegaskan Washington akan menghadapi kerugian besar jika kembali melancarkan agresi militer, di tengah buntu perundingan nuklir dan jalur energi global.
Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Iran melayangkan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Teheran menyatakan bahwa Washington akan menderita kerusakan yang jauh lebih besar apabila kembali melakukan serangan, menyusul penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ketegangan ini bermula ketika Presiden Donald Trump pada Sabtu 26 september 2026 secara terbuka menolak usulan tujuh hari dari Iran untuk membuka kembali selat strategis tersebut sekaligus memulai kembali perundingan nuklir.
Di sisi lain, pemerintah Iran melalui juru bicaranya menyatakan bahwa mereka masih menunggu mediator untuk menyampaikan tanggapan resmi dari pihak Washington.
Dalam program televisi pemerintah Iran, Khabar network, Juru Bicara Angkatan Darat Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menilai bahwa posisi Amerika Serikat di kawasan tersebut sedang berada dalam titik lemah. Ia menyebut kondisi ini dapat mendorong Washington untuk mengambil langkah nekat.
"Amerika Serikat berada dalam situasi yang tidak menguntungkan di kawasan ini, dan mereka mungkin saja kembali meluncurkan agresi militer," ujar Akraminia, sebagaimana dilansir oleh Kantor Berita IRIB minggu 27 september 2026.
Ia menambahkan bahwa Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran telah bersiap secara penuh dalam menghadapi segala kemungkinan. Menurutnya, pengusiran militer Amerika Serikat dari Asia Barat adalah kunci utama untuk menciptakan keamanan yang berkelanjutan di kawasan.
Senada dengan hal tersebut, Panglima Tertinggi Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam jika jalur perdagangan internasional mereka ditutup sementara pihak asing tetap bebas menggunakannya. Ia menggarisbawahi pentingnya jalur air vital tersebut bagi kedaulatan bangsa.
"Jika Iran tidak dapat berdagang dan bertahan hidup, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat menikmati perdagangan atau kehidupan di kawasan ini. Selat Hormuz adalah simbol kehormatan dan martabat kami," tegas Hatami.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran, yang menyatakan bahwa prinsip keamanan dan kebebasan navigasi di kawasan berlaku secara kolektif. "Jika kawasan ini menjadi tidak aman, maka ketidakamanan itu akan dirasakan oleh semua pihak," ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui saluran Telegram resminya mengonfirmasi bahwa Teheran telah memantau reaksi awal dari Presiden Trump. Namun, hingga kini belum ada tanggapan resmi yang disampaikan secara langsung melalui perantara diplomatik.
Di pihak lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam wawancaranya dengan CBS News pekan ini menekankan bahwa negaranya tidak pernah memiliki niat untuk memulai perang. "Perang ini dipaksakan kepada kami," ujar Pezeshkian.
Peringatan dari militer Iran ini muncul tidak lama setelah laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Presiden Trump telah mengindikasikan kepada para penasihatnya untuk mempertimbangkan kembali serangan udara terhadap Iran menyusul dinamika politik dalam negeri.
Eskalasi yang telah memasuki bulan ketujuh ini bermula dari rangkaian serangan skala besar yang diluncurkan oleh AS dan Israel pada Februari lalu terhadap infrastruktur militer serta pertahanan udara Iran. Konflik berkepanjangan ini tidak hanya menelan korban jiwa dari personel militer, tetapi juga memicu ketidakstabilan ekonomi dan volatilitas yang berkelanjutan pada jalur pasokan energi global.










