TVRINews, New York
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono menegaskan ketahanan nasional menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan kolektif untuk menghadapi berbagai tantangan global.
Hal itu disampaikan Sugiono dalam Pernyataan Nasional Indonesia pada Debat Umum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat.
Sugiono mengatakan, pembangunan multilateralisme yang tangguh harus dimulai dari negara-negara yang tangguh. Menurutnya, ketahanan nasional merupakan hal yang harus dibangun dari dalam negeri.
"Membangun multilateralisme yang tangguh dimulai dari negara-negara yang tangguh. Semuanya dimulai dari dalam negeri," ujar Sugiono, dikutip Minggu, 27 September 2026.
Ia menjelaskan, Indonesia telah memahami pentingnya ketahanan nasional sejak beberapa dekade lalu. Pada 1960-an, Indonesia mengembangkan konsep ketahanan nasional untuk menjaga identitas, melindungi kedaulatan dan persatuan, serta mempertahankan pembangunan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kemudian Sugiono menekankan, masyarakat merupakan inti dari ketahanan nasional. Ketahanan sebuah bangsa, kata dia, tercermin ketika keluarga mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, petani dapat berproduksi, pekerja memperoleh pekerjaan yang layak, serta anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan meraih masa depan.
"Bagi Indonesia, hal ini berarti membangun kemandirian pangan yang lebih besar dan memperkuat ketahanan energi," katanya.
Selain itu, Indonesia juga terus berinvestasi pada masa depan masyarakat melalui pendidikan berkualitas dan akses terhadap layanan kesehatan dasar. Di sisi ekonomi, pemerintah membangun perekonomian yang mampu menghadapi berbagai guncangan sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja, memperkuat industri, dan meningkatkan kapasitas produktif.
Menurut Sugiono, kemampuan mengelola perbedaan dan menjaga persatuan juga menjadi bagian penting dari ketahanan nasional Indonesia.
Sebagai negara dengan penduduk lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia memandang keberagaman bukan sebagai sesuatu yang harus diatasi, melainkan dikelola, dihormati, dan diubah menjadi kekuatan.
"Melalui partisipasi demokratis, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan, kita menjaga persatuan. Dari Aceh hingga Papua, dari Miangas hingga Rote, Indonesia adalah satu rakyat, Indonesia adalah satu bangsa," ucapnya.
Lebih lanjut, Sugiono menyebut ketahanan nasional yang kuat pada akhirnya memungkinkan Indonesia memberikan kontribusi lebih besar di tingkat regional maupun global.
Indonesia dengan ketahanan pangan yang kuat, misalnya, dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan regional dan global. Sementara ketahanan energi yang lebih kuat dapat mendukung kontribusi Indonesia terhadap transisi energi global.
"Ekonomi yang lebih kuat membuka peluang yang lebih besar untuk kerja sama dan kemakmuran bersama," imbuhnya.
Ia menegaskan, dari sinilah ketahanan nasional berkembang menjadi ketahanan kolektif dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
"Ini adalah bagaimana ketahanan nasional menjadi ketahanan kolektif, dan ini adalah bagaimana ketahanan membantu kita memajukan SDGs," ungkapnya.
Sugiono menambahkan, ketahanan nasional Indonesia juga akan mendukung terciptanya kawasan yang stabil, damai, dan dapat diprediksi. Menurutnya, negara yang tangguh akan berkontribusi terhadap kawasan yang tangguh.
Dalam konteks Asia Tenggara, Sugiono menilai ketahanan kawasan juga membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi. Karena itu, ASEAN harus terus berkembang agar tetap sesuai dengan kebutuhan zaman dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta kawasan yang lebih luas.
Ia menilai ketahanan di tingkat nasional dan kawasan perlu didukung sistem multilateral yang mampu menopang serta mempertahankannya.
"Karena ketahanan bukan sekadar tentang bertahan dari badai. Ketahanan adalah tentang memiliki kekuatan untuk terus bergerak maju bersama," tuturnya.










