TVRINews – Brasil
Dugaan Intervensi Algoritma Meta Mewarnai Putaran Kedua Pilpres Brasil
Tim kampanye Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, resmi mengajukan tuntutan diskualifikasi terhadap rival politiknya, Flavio Bolsonaro, atas dugaan campur tangan perusahaan teknologi Meta dalam proses Pemilihan Presiden (Pilpres) Brasil.
Langkah hukum yang dilayangkan ke Mahkamah Agung Pemilihan Umum (TSE) Brasil pada Selasa waktu setempat ini berfokus pada tuduhan manipulasi algoritma. Pihak Lula menilai Meta perusahaan induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram secara sengaja menekan jangkauan konten kampanye petahana guna menguntungkan posisi kandidat sayap kanan tersebut.
"Petisi ini diajukan atas dasar dugaan manipulasi algoritma yang merugikan peluang kemenangan Lula," ujar seorang sumber internal tim kampanye kepada kantor berita AFP.
Perselisihan ini memanas menjelang pemungutan suara putaran kedua yang dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan ini. Berdasarkan hasil pemungutan suara putaran pertama awal bulan ini, Flavio Bolsonaro memimpin tipis dengan raihan 47 persen suara, unggul atas Lula yang memperoleh 45 percent. Sejumlah lembaga survei mencatat tingkat elektabilitas kedua kandidat berada dalam posisi imbang secara teknis.
TSE sebelumnya telah memberikan batas waktu 24 jam kepada Meta sejak Senin untuk membuktikan kesetaraan perlakuan terhadap kedua kubu. Pengadilan mengancam akan menjatuhkan sanksi denda harian sebesar 200.000 dolar AS jika perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut gagal mematuhi ketentuan.
Atas perintah tersebut, pihak Meta menyatakan telah mengambil langkah penyelesaian. "Kami telah menyelesaikan implementasi langkah-langkah untuk mematuhi keputusan Mahkamah Agung Pemilihan Umum," tulis penyataan resmi Meta pada Selasa 20 Oktober 2026.
Selain masalah algoritma di platform media sosial, tim Lula juga menyoroti adanya bias pada fitur kecerdasan buatan (AI) di aplikasi WhatsApp. Pihak pelapor mengklaim pembatasan konten terjadi pada materi kampanye Lula, sementara konten yang berkaitan dengan Flavio Bolsonaro berjalan tanpa hambatan.
Meta membantah tuduhan keberpihakan politik tersebut. Manajemen perusahaan mengklarifikasi bahwa penghentian beberapa iklan kampanye Lula sebelumnya murni disebabkan oleh kendala teknis internal, bukan keputusan berbasis preferensi politik.
Gelombang protes turut mewarnai ketegangan ini. Puluhan pendukung Lula menggelar demonstrasi di depan kantor pusat Meta di Sao Paulo pada Senin 19 Oktober 2026, membawa papan tuntutan dan menyuarakan penolakan terhadap aktivitas perusahaan tersebut di Brasil.
Eskalasi politik ini menempatkan Brasil pada persimpangan geopolitik penting. Kemenangan Lula akan mempertahankan posisi negara berpenduduk 214 juta jiwa tersebut sebagai basis kekuatan kiri di Amerika Latin.
Sebaliknya, kemenangan Flavio Bolsonaro putra mantan presiden Jair Bolsonaro yang kini menjalani hukuman tahanan rumah berpotensi menggeser arah kebijakan Brasil ke barisan pemerintahan kanan yang sejajar dengan arus politik Amerika Serikat.










