TVRINews – Moskow
Pertemuan Putin dan Pezeshkian di Turkmenistan Perkuat Aliansi Strategis di Tengah Tekanan Global
Moskow menyatakan kesiapan penuh untuk meredakan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam rangkaian agenda bilateral di Turkmenistan Kamis 8 Oktober 2026.
Pertemuan penting antara kedua kepala negara tersebut berlangsung di sela-sela persiapan KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) di resor Avaza, Laut Kaspia. Dalam kesempatan itu, Moskow menegaskan komitmen diplomatiknya untuk memfasilitasi dialog penyelesaian krisis.
"Kami siap melakukan segala daya upaya kami untuk berkontribusi pada penyelesaian situasi ini," ujar Putin, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Rusia.
Putin menilai bahwa Teheran telah menunjukkan langkah konkret melalui berbagai upaya nyata guna mengakhiri ketegangan yang memburuk sejak serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari. Selain membahas krisis regional, kedua pemimpin menyoroti perkembangan positif hubungan bilateral antara Moskow dan Teheran, yang kini sama-sama menghadapi sanksi internasional ekstensif.
Hubungan diplomatik dan kerja sama militer antara Rusia dan Iran mengalami penguatan signifikan sejak eskalasi konflik di Ukraina pada Februari 2022. Sejumlah negara Barat dan Ukraina sebelumnya menuduh Iran memasok persenjataan nirawak serta rudal jarak pendek ke Moskow. Di sisi lain, Rusia disebut memberikan dukungan intelijen strategis kepada Iran.
Jalinan komunikasi intensif ini menyusul sejumlah pertemuan sebelumnya, termasuk di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan bulan lalu, serta percakapan telepon yang memuat penawaran mediasi dari Kremlin menurut kantor berita Iran, IRNA.
Di tengah macetnya jalur diplomasi internasional, ketegangan geopolitik tetap tinggi. Presiden Pezeshkian sempat menyatakan bahwa perundingan langsung dengan Amerika Serikat saat ini tidak relevan, sementara upaya penyelesaian konflik di Ukraina juga masih menemui jalan buntu.
Pertemuan Putin dan Pezeshkian menjadi salah satu sorotan utama dalam agenda KTT CIS yang dihadiri oleh para pemimpin negara eks-Soviet, termasuk Armenia, Azerbaijan, Belarus, dan negara-negara Asia Tengah lainnya.
Menurut Temur Umarov, seorang peneliti dari Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin, forum CIS dimanfaatkan Moskow untuk menunjukkan eksistensi pengaruh geopolitiknya di tengah isolasi Barat. Namun, para pengamat menilai bahwa pengaruh tersebut memiliki batasan di tengah upaya negara anggota mendiversifikasi kemitraan global mereka, termasuk dengan Tiongkok dan negara-negara Barat.
"Bahkan jika Rusia memutuskan untuk menggunakan platform ini untuk mempropagandakan retorika anti-Barat atau anti-Ukraina, itu tidak berarti anggota lain akan otomatis berlangganan posisinya," ungkap Zhanibek Arynov, peneliti geopolitik Asia Tengah berbasis di Kazakhstan, kepada AFP.










