TVRINews – Washington
Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan ada serangan militer terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu, meredakan ketegangan pasar minyak global sekaligus merespons dinamika politik domestik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan secara terbuka bahwa negaranya tidak akan melancarkan serangan militer terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu (midterm elections) yang dijadwalkan pada 3 November mendatang. Pernyataan ini disampaikan di tengah dinamika harga minyak global yang sempat melonjak akibat spekulasi keamanan.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada hari Kamis 8 Oktober 2026, Trump menjelaskan bahwa meskipun Iran tengah menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang berat serta blokade yang tetap berlaku penuh, Washington tidak akan mengambil tindakan ofensif dalam waktu dekat.
"Sementara Iran berada dalam kondisi yang sangat buruk, baik secara ekonomi maupun militer, dan blokade akan tetap berjalan penuh, Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu paruh waktu," tulis Trump.
Ia juga menambahkan bahwa komunikasi konstruktif dengan pihak Republik Islam Iran sedang berlangsung, tanpa merinci lebih lanjut substansi pembicaraan tersebut.
Pernyataan resmi ini muncul menyusul lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional pada hari Kamis, yang dipicu oleh laporan sejumlah media terkemuka mengenai potensi eskalasi militer di Timur Tengah.
The Atlantic melaporkan pada hari Rabu 7 Oktober 2026 bahwa Gedung Putih telah meminta Pentagon untuk menyusun opsi strategis terkait target-target di Iran menjelang pemilu. Sementara itu, The New York Times pada hari Kamis menyebutkan bahwa rencana tersebut tengah dikaji, meski terdapat keraguan dari pihak kepresidenan.
Ketegangan di kawasan strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak global serta konflik berkepanjangan antara kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dan Arab Saudi, turut menjadi faktor penekan pasar energi.
Terkait insiden maritim terbaru, badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan pada hari Rabu bahwa sebuah kapal tanker di lepas pantai utara Qatar terkena hantaran proyektil, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dengan jumlah yang belum dirinci.
Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kini menjadi salah satu isu krusial dalam kampanye pemilu paruh waktu. Berbagai lembaga survei menunjukkan tingginya ketidakpuasan pemilih terhadap lonjakan biaya energi, yang dikaitkan dengan konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak Februari lalu.
Meski Trump kerap menyatakan bahwa konflik tersebut telah dimenangkan secara efektif oleh AS, ketidakstabilan keamanan yang masih terjadi termasuk penarikan pesawat pembom strategis Amerika dari sebuah pangkalan di Inggris membuat ekspektasi penurunan harga BBM belum meredakan keresahan publik.
Pemilu paruh waktu mendatang akan menentukan peta kekuatan di Kongres untuk sisa masa jabatan Trump. Meskipun tidak bertarung langsung sebagai kandidat di surat suara, Trump mengambil peran aktif dalam kampanye guna membantu Partai Republik mempertahankan mayoritas di legislatif. Ancaman potensi pemakzulan (impeachment) jilid ketiga jika Partai Demokrat merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat turut menjadi pertimbangan politik yang krusial bagi Gedung Putih.
Dalam kesempatan yang sama, Trump pada hari Kamis berupaya meredam polemik terkait pernyataannya dalam sebuah kampanye awal pekan ini, di mana ia sempat menyinggung potensi ancaman terhadap Los Angeles dan San Diego. Ia menuding pemberitaan media telah memutarbalikkan maksud dari ucapannya setelah kubu Demokrat mengecam pernyataan tersebut.
"Kenyataannya, yang saya maksud adalah bahwa kenaikan harga bensin yang bersifat sementara adalah harga yang kecil untuk dibayar demi memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir," jelas Trump. "Dan jika Anda ingin melihat harga yang sesungguhnya, bayangkan apa dampaknya jika mereka membom San Diego atau Los Angeles," imbuhnya.










