TVRINews – Washington DC
Abdul El-Sayed siap berkolaborasi memangkas anggaran militer luar negeri demi menghentikan konflik.
Senator Amerika Serikat terpilih asal Michigan, Abdul El-Sayed, menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan Presiden Donald Trump terkait peninjauan ulang serta penghentian bantuan militer pemerintah federal kepada Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan El-Sayed 5 November 2026.menyusul pengumuman Trump yang berencana memangkas alokasi dana bantuan asing sebesar USD 4 miliar ke Israel pada akhir tahun ini.
Dalam sesi wawancara di program Fox and Friends, Trump mengutarakan pertimbangan efisiensi anggaran dengan menyebut bahwa dana hibah militer tersebut tidak lagi diperlukan oleh pihak penerima.
Kendati kerap mendapat retorika keras selama masa kampanye pemilihan sela, El-Sayed merespons langkah kebijakan anggaran luar negeri tersebut secara konstruktif. Politisi Partai Demokrat yang mencatatkan sejarah sebagai anggota Senat Muslim pertama di AS itu menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh atas keterlibatan finansial Washington.
"Saya menilai kita tidak sepatutnya melanjutkan subsidi bagi kekuatan militer asing yang memanfaatkan dana pembayar pajak AS untuk tindakan yang memicu krisis humaniter. Begitu pula dengan penjualan persenjataan yang berisiko memperburuk situasi di kawasan," ujar El-Sayed dalam wawancaranya.
Selama proses pemilu, dinamika politik antara kedua tokoh berlangsung intens. Trump sempat mengutarakan berbagai kritik tajam terkait pencalonan El-Sayed. Namun, menjelang pelantikannya pada tahun mendatang, El-Sayed memilih memfokuskan pembahasannya pada arah diplomasi dan keadilan kawasan.
Lebih lanjut, El-Sayed menekankan pentingnya menarik batas tegas antara ajaran agama dan kebijakan politik pemerintah suatu negara agar diskursus publik tetap obyektif.
"Kita harus membedakan secara rasional antara agama Yudaisme dengan kebijakan politik pemerintah Israel. Pendekatan diplomatik kita di wilayah tersebut memerlukan konsistensi nilai. Prioritas utamanya adalah memastikan anak-anak, baik Palestina maupun Israel, dapat tumbuh tanpa bayang-bayang kekerasan militer," pungkasnya.










