TVRINews – Sao Paulo, Brasil
Politisi senior ini mencetak sejarah lewat putaran kedua, sementara pihak lawan mengajukan penolakan atas hasil pemilu.
Luiz Inácio Lula da Silva resmi mengamankan masa jabatan keenamnya sebagai Presiden Brazil setelah memenangi putaran kedua pemilihan umum yang berlangsung sengit Minggu, 25 Oktober 2026. Kemenangan ini sekaligus mematahkan keunggulan tipis rivalnya dari sayap kanan, Flávio Bolsonaro, yang kemudian menyatakan penolakan terhadap rekapitulasi akhir tersebut.
Berdasarkan data penghitungan suara yang telah mencapai 100 persen dari otoritas pemilu setempat, politisi berusia 80 tahun tersebut meraih 51,79 persen suara. Lula unggul sekitar 4,4 juta suara atas Flávio Bolsonaro yang memperoleh 48,21 persen.
Kemenangan ini mencatatkan sejarah baru dalam peta politik Brazil sejak kembalinya sistem demokrasi pada dekade 1980-an, di mana kandidat yang tertinggal di putaran pertama berhasil membalikkan keadaan pada pemungutan suara pamungkas.
Dalam pidato kemenangannya di hadapan para pendukung di São Paulo, Lula menegaskan komitmennya untuk membawa arah baru bagi tata kelola pemerintahan nasional.
"Kami akan mengubah cara negara ini diperintah. Pemilihan umum ini merupakan bentuk kemenangan bagi prinsip-prinsip demokrasi," ujar Lula.
Peningkatan partisipasi pemilih menjadi salah satu faktor penentu pergeseran suara tersebut. Tingkat abstensi pemilih tercatat menurun menjadi 19,21 persen pada putaran kedua, dari sebelumnya 21,08 persen pada pemungutan suara awal. Mobilisasi massa pendukung di wilayah pemukiman padat dinilai efektif mendorong angka kehadiran di tempat pemungutan suara (TPS).
Menteri Kesehatan Brazil, Alexandre Padilha, menilai hasil ini sebagai momen krusial bagi keberlangsungan kebijakan publik di tingkat nasional maupun regional.
"Ini adalah pencapaian signifikan bagi rakyat Brazil untuk menentukan arah kebijakan lingkungan, layanan kesehatan masyarakat, sistem pendidikan, dan penegakan konstitusi. Keputusan ini juga memberikan sinyal penting bagi kawasan Amerika Latin," kata Padilha.
Di sisi lain, Flávio Bolsonaro menyatakan tidak dapat menerima hasil resmi yang dikeluarkan lembaga penyelenggara pemilu. Pihaknya berencana menempuh jalur hukum untuk meminta pembatalan hasil pemungutan suara, dengan menyoroti keputusan perpanjangan durasi pemungutan suara selama dua jam oleh Mahkamah Agung.
"Keputusan perpanjangan waktu tersebut tidak lazim dan tidak dapat diterima. Hal itu dinilai mengubah ketentuan di tengah proses yang sedang berlangsung," tegas Flávio dalam keterangannya.
Proses pemilu ini turut mendapat perhatian dari sejumlah pemimpin dunia. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, serta Presiden Paraguay, Santiago Peña, menyampaikan apresiasi atas jalannya proses demokrasi dan mengucapkan selamat kepada rakyat Brazil atas terselenggaranya pemungutan suara tersebut.
Dengan hasil ini, Lula da Silva bersiap kembali memimpin negara dengan perekonomian terbesar di Amerika Latin tersebut, di tengah tantangan konsolidasi politik internal dan stabilitas ekonomi kawasan.










