TVRINews, Cape Canaveral
Uji Coba New Glenn Gagal, Landasan Luncur Alami Kerusakan Parah.
Sebuah ledakan hebat menghancurkan roket New Glenn milik perusahaan dirgantara Blue Origin saat menjalani uji coba mesin rutin di Kompleks Peluncuran 36 (LC-36), Pusat Antariksa Kennedy, Florida.
Insiden yang terjadi pada Kamis malam waktu setempat ini memicu kekhawatiran besar atas komitmen perusahaan milik miliarder Jeff Bezos tersebut terhadap program ambisius NASA di Bulan.
Bola api raksasa yang menerangi langit Florida terpantau menghancurkan seluruh badan roket setinggi 98 meter tersebut. Meski ledakan terjadi sangat masif, otoritas terkait memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
"Seluruh personel telah terdata dan dalam kondisi aman. Ini hari yang sangat berat, tetapi kami akan membangun kembali apa pun yang perlu diperbaiki dan kembali terbang. Ini perjuangan yang sepadan," ujar Jeff Bezos melalui pernyataan resminya di media sosial X Sabtu 30 Mei 2026
Dampak Infrastruktur dan Penundaan Misi
Kerusakan pada Kompleks Peluncuran 36 dilaporkan sangat masif. Rekaman udara menunjukkan salah satu menara pelindung petir runtuh, sementara struktur penyangga utama (erector-gantry) yang berfungsi menegakkan roket dari hanggar hilang dari pandangan akibat hancur.
Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi Blue Origin. LC-36 merupakan satu-satunya fasilitas di dunia yang dirancang untuk menerbangkan New Glenn.
Sejumlah analis industri kedirgantaraan memperkirakan proses rekonstruksi dan sertifikasi ulang landasan akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan sekadar hitungan minggu.
Kegagalan ini langsung berdampak pada lini bisnis komersial Amazon. Roket yang hancur tersebut sedianya dijadwalkan meluncur pada 4 Juni mendatang untuk membawa 48 satelit pita lebar jaringan Leo milik Amazon.
Proyek ini diproyeksikan menjadi kompetitor utama layanan Starlink milik SpaceX yang dipimpin Elon Musk. Beruntung, ke-48 satelit tersebut belum diintegrasikan ke dalam roket saat pengujian berlangsung.
Menghambat Ambisi Lunar NASA
Di luar sektor komersial, dampak paling signifikan dari insiden ini menyasar program eksplorasi luar angkasa NASA. Insiden terjadi hanya beberapa hari setelah Administrator NASA, Jared Isaacman, mengumumkan tiga misi pertama untuk membangun pangkalan permanen di kutub selatan Bulan (Moon Base 1).
Misi perdana yang ditargetkan meluncur paling cepat musim gugur 2026 tersebut mengandalkan wahana pendarat robotik Blue Moon Mark 1 "Endurance" milik Blue Origin. Wahana ini seharusnya diangkut menggunakan roket New Glenn jenis roket yang sama dengan yang kini hancur berkeping-keping di Florida.
Menanggapi situasi ini, Jared Isaacman menyatakan bahwa NASA terus memantau perkembangan pasca-anomali di LC-36.
"Penerbangan luar angkasa tidak mengenal ampun, dan mengembangkan kemampuan peluncuran beban berat yang baru adalah hal yang luar biasa sulit. Kami akan bekerja sama dengan mitra kami untuk mendukung investigasi menyeluruh, menilai dampak misi jangka pendek, dan kembali meluncurkan roket," kata Isaacman dalam keterangannya.
Selain misi Moon Base 1, Blue Origin baru saja memenangkan kontrak NASA senilai USD 468 juta untuk mengirimkan dua kendaraan penjelajah bulan komersial pada tahun 2028. Rangkaian jadwal ini kini menghadapi ketidakpastian tinggi.
Investigasi dan Solidaritas Industri
Komando Jarak Timur Angkatan Luar Angkasa AS (U.S. Space Force Eastern Range), yang mengoordinasikan seluruh peluncuran di Florida, mengonfirmasi bahwa tim tanggap darurat telah mengamankan lokasi kejadian.
"Petugas bersama dengan Blue Origin dan mitra terkait saat ini sedang mengevaluasi data yang ada untuk menentukan penyebab pasti dari anomali tersebut," tulis pernyataan resmi Angkatan Luar Angkasa AS.
Insiden ini menjadi peristiwa ledakan di atas landasan (on-pad explosion) pertama di Cape Canaveral sejak roket Falcon 9 milik SpaceX meledak di Landasan 40 pada 1 September 2016.
Kala itu, Falcon 9 membutuhkan waktu tiga setengah bulan untuk kembali terbang, sementara landasannya lumpuh selama lebih dari satu tahun. Berbeda dengan Blue Origin, SpaceX saat itu memiliki landasan cadangan alternatif untuk melanjutkan operasinya.
Menanggapi musibah yang menimpa kompetitornya, pendiri SpaceX, Elon Musk, menyampaikan simpati dan dukungannya melalui sebuah pesan singkat: "Turut prihatin melihat kejadian ini, saya berharap Anda dapat pulih dengan cepat."
Hingga saat ini, penyebab pasti dari kegagalan fungsi mesin yang memicu ledakan masih menunggu analisis mendalam terhadap data telemetri dan rekaman video peluncuran. Bandara antariksa Eastern Range menyatakan tetap beroperasi penuh untuk mendukung kompleks peluncuran lainnya di kawasan tersebut.










