TVRINews – Berlin
Ketegangan diplomatik antara Donald Trump dan Friedrich Merz memicu pergeseran kekuatan militer AS di Eropa.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) secara resmi mengumumkan rencana penarikan 5.000 personel militer dari Jerman.
Strategis ini diambil di tengah memanasnya hubungan diplomatik antara Presiden Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait eskalasi konflik dengan Iran.
Keputusan krusial ini diumumkan hanya berselang satu hari setelah Presiden Trump melontarkan kritik tajam terhadap Kanselir Merz.
Sebelumnya, pemimpin Jerman tersebut sempat menyatakan bahwa pihak Amerika Serikat telah "dipermalukan" oleh para negosiator Iran dalam rangkaian perundingan yang buntu.
Melalui unggahan di media sosial pada jumat 1 Mei 2026 waktu setempat, Trump menyebut Merz melakukan "pekerjaan yang mengerikan" dan menghadapi berbagai persoalan domestik di Jerman, mulai dari isu imigrasi hingga krisis energi.
Tidak hanya Jerman, Trump juga memberikan sinyalemen kuat untuk menarik pasukan dari Italia dan Spanyol.
"Keputusan ini mengikuti tinjauan menyeluruh terhadap postur kekuatan Departemen Pertahanan di Eropa dan merupakan pengakuan atas persyaratan teater serta kondisi di lapangan," ujar juru bicara Pentagon, Sean Parnell, dalam pernyataan resmi yang mengonfirmasi perintah dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Parnell menambahkan bahwa proses penarikan tersebut diprediksi akan selesai dalam kurun waktu enam hingga dua belas bulan ke depan.
Ketegangan Strategi dan Aliansi
Perselisihan ini bermula ketika Kanselir Merz, saat berbicara di hadapan mahasiswa awal pekan ini, melayangkan kritik terhadap kebijakan luar negeri Washington. Menurut Merz, Amerika Serikat tidak memiliki strategi yang jelas dalam menangani Iran.
"Orang-orang Iran jelas sangat mahir dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat mahir dalam tidak bernegosiasi.
Mereka membiarkan Amerika melakukan perjalanan ke Islamabad dan pergi lagi tanpa hasil apa pun," kata Merz, seraya menambahkan bahwa situasi tersebut merupakan bentuk penghinaan terhadap negara.
Menanggapi hal itu, Trump melalui platform Truth Social membalas dengan menyebut bahwa Merz tidak memahami esensi permasalahan nuklir Iran.
"Tidak heran Jerman berkinerja buruk, baik secara ekonomi maupun bidang lainnya," tulis Trump dalam unggahannya.
Hingga saat ini, Kedutaan Besar Jerman di Washington belum memberikan pernyataan resmi saat dihubungi terkait dinamika terbaru ini.
*Rekonfigurasi Kekuatan di Eropa*
Jerman merupakan pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Eropa, dengan lebih dari 36.000 tentara aktif per Desember tahun lalu.
Pangkalan Udara Ramstein di wilayah barat daya Jerman tetap menjadi titik sentral operasional AS di kawasan tersebut.
Meskipun Jerman di bawah pemerintahan Merz telah meningkatkan belanja pertahanan secara signifikan diproyeksikan mencapai 3,1% dari PDB pada tahun depan hal tersebut tampaknya belum cukup untuk meredam retorika Trump yang sering mengkritik sekutu NATO.
Kecenderungan AS untuk mengalihkan fokus militer dari Eropa ke wilayah Indo-Pasifik juga terlihat tahun lalu, saat Washington mengurangi kehadiran pasukannya di Rumania.
Langkah-langkah ini terus memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Eropa Timur dan beberapa anggota Kongres AS dari Partai Republik yang memandang kehadiran militer di Eropa sebagai kunci stabilitas global.










