TVRINews, Washington
Penyelamatan satu warga AS dari pulau terpencil memakan biaya fantastis hingga menekan kas negara.
Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan menggelontorkan dana hingga 750 ribu dolar AS untuk menyewa sebuah kapal pesiar pribadi, guna mengevakuasi seorang warga negaranya dari pulau terpencil di kawasan Pasifik Selatan Kamis 11 Juni 2026, menyusul potensi paparan Hantavirus dari sebuah kapal pesiar yang sebelumnya ia tumpangi.
Berdasarkan dokumen internal pemerintah yang diperoleh oleh The Associated Press, wanita tersebut diketahui pernah berada di atas kapal pesiar MV Hondius asal Belanda pada bulan April.
Kapal itu kemudian menjadi pusat penyebaran wabah mematikan yang merenggut sedikitnya tiga korban jiwa. Setelah turun dari kapal, ia sempat terbang ke San Francisco sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pulau Pitcairn, sebuah wilayah seberang laut Inggris, melalui jalur transit di Tahiti.
Berdasarkan rilis AP News,Dua pejabat AS yang mengetahui operasi ini menyatakan bahwa jumlah pasti dari total biaya evakuasi masih dalam tahap perhitungan, mengingat misi penyelamatan tersebut masih berlangsung. Keduanya berbicara dengan syarat anonim karena terikat oleh undang-undang privasi medis Amerika Serikat.
Tingginya biaya untuk misi penyelamatan tunggal ini menambah beban finansial pemerintah. Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri AS telah mengeluarkan dana besar untuk evakuasi cepat diplomat dan warga sipil dari Timur Tengah di tengah konflik Iran, serta persiapan antisipasi wabah Ebola di Afrika. Kondisi ini menekan anggaran darurat kementerian, yang dikenal sebagai "K Fund", hingga merosot ke titik terendah dalam tujuh tahun terakhir.
Sebuah dokumen internal lain mengungkapkan bahwa kementerian tengah mempertimbangkan opsi untuk memindahkan dana darurat sebesar 50 juta dolar AS dari pos lain. Rinciannya meliputi 35 juta dolar AS dari anggaran keamanan, konstruksi, dan pemeliharaan kedutaan, serta 15 juta dolar AS dari program operasional diplomatik. Meski demikian, belum ada keputusan final terkait pemindahan dana ini.
Salah seorang pejabat pemerintah menegaskan bahwa kementerian memiliki opsi lain, yakni meminta tambahan dana kepada Kongres. Pejabat tersebut menolak merinci potensi defisit anggaran, namun memastikan bahwa kementerian tetap berada dalam posisi yang kuat.
"Kami siap mendukung para diplomat, pegawai pemerintah, dan warga sipil yang harus meninggalkan kawasan konflik atau membutuhkan bantuan akibat krisis global," ungkap pejabat tersebut.
Secara resmi, pihak Kementerian Luar Negeri AS menolak memberikan komentar spesifik mengenai status medis warganya di Pulau Pitcairn. Namun, kementerian menegaskan komitmen perlindungan mereka melalui sebuah pernyataan tertulis.
"Ketika seorang warga Amerika menghadapi risiko di luar negeri dan tidak memiliki akses terhadap transportasi komersial, Kementerian Luar Negeri akan berupaya memberikan bantuan yang tepat untuk memulangkan mereka ke Amerika Serikat atau ke lokasi aman lainnya," tulis pernyataan tersebut.
Proses evakuasi ini diwarnai oleh berbagai kendala logistik dan birokrasi. Otoritas Inggris, yang mengelola Pulau Pitcairn, sebelumnya telah meminta bantuan mendesak dari AS. Namun, rencana awal untuk memindahkan wanita tersebut kembali ke Tahiti ditolak keras oleh otoritas Polinesia Prancis. Penolakan ini terjadi karena sang warga negara AS tidak melaporkan riwayat potensi paparannya saat melakukan transit sebelumnya.
Sebagai jalan keluar, pemerintah AS menyewa kapal pesiar jenis trimaran bernama "Titaina Explorer" milik seorang warga negara Prancis. Kapal ini ditugaskan untuk membawa wanita tersebut yang sejauh ini dilaporkan tidak menunjukkan gejala sakit menuju Pulau Paskah.
Wilayah milik Cile yang berjarak sekitar 2.253 kilometer dari Pitcairn ini dipilih karena memiliki akses penerbangan komersial langsung menuju Santiago, sehingga ia dapat diterbangkan kembali ke AS untuk mendapatkan observasi medis.
Keterbatasan akses laut dan absennya bandara di Pulau Pitcairn membuat penyusunan rute evakuasi ini memakan waktu hingga berminggu-minggu. Data pelacakan maritim menunjukkan bahwa Titaina Explorer telah meninggalkan Pulau Pitcairn pada 5 Juni lalu. Bergantung pada kondisi cuaca dan kecepatan kapal, pelayaran menuju Pulau Paskah diperkirakan akan memakan waktu hingga sepuluh hari.










