TVRINews – Teheran/Washington
Kesepakatan damai mencakup pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade ekonomi Iran.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki fase krusial. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kesepakatan damai dengan Washington hampir mencapai tahap final, yang diyakini akan menjadi kunci stabilitas di kawasan Teluk.
Poin utama dari nota kesepahaman (MOU) yang ditengahi oleh Pakistan dan Qatar ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Sebagai imbalan, pemerintah AS dikabarkan siap mencabut blokade maritim terhadap pelayaran Iran.
"Jika disetujui, perjanjian ini akan ditandatangani secara jarak jauh dalam beberapa hari ke depan. Saya sangat optimis," ujar Araghchi dalam pernyataan di televisi pemerintah Iran, dikutip Sabtu 13 Juni 2026.
Pendekatan Berbasis Kinerja
Pejabat senior di Washington menekankan bahwa keberhasilan kesepakatan ini tidak didasarkan pada kepercayaan semata, melainkan pada "kinerja". AS menegaskan bahwa manfaat ekonomi bagi Iran, termasuk pencabutan sanksi dan pencairan aset, akan diberikan secara bertahap dan hanya setelah implementasi langkah-langkah yang disepakati terverifikasi secara akurat.
"Integrasi Iran ke dalam ekonomi global akan terjadi secara bertahap," ungkap seorang pejabat AS dalam pengarahan kepada jurnalis. Salah satu tuntutan utama Washington adalah penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi di Timur Tengah, termasuk Hezbollah.
Isu Nuklir Menjadi Fokus Lanjutan
Meskipun gencatan senjata telah disepakati sejak April, ketegangan sempat kembali meningkat akibat serangkaian serangan sporadis pekan ini. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengonfirmasi pembatalan rencana serangan terhadap Iran setelah melihat kemajuan signifikan dalam perundingan.
Terkait program nuklir Iran yang menjadi perhatian dunia selama beberapa dekade, pihak AS menjelaskan bahwa negosiasi substantif mengenai penghancuran material uranium yang diperkaya akan dimulai setelah fase pembukaan Selat Hormuz selesai. Iran sendiri tetap bersikeras bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil, yakni energi dan riset.
Tantangan Diplomasi yang Tersisa
Kendati optimisme meningkat, para analis memperingatkan bahwa masih terdapat hambatan internal. Araghchi mengakui adanya perbedaan pandangan di antara Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran terkait klausul dalam MOU tersebut.
Selain itu, posisi Israel menjadi catatan tersendiri. Meskipun Israel tidak terlibat langsung dalam perundingan, kesepakatan ini diharapkan dapat mengakhiri konflik antara Israel dan Hezbollah di Lebanon sebuah poin yang dilaporkan menjadi syarat tambahan yang diajukan oleh Teheran.
Pemerintah Israel sendiri sejauh ini menegaskan tetap akan mengambil tindakan tegas jika serangan terhadap wilayah utaranya terus berlanjut. Kini, dunia internasional menantikan realisasi dari "penyelesaian besar" yang dijanjikan dalam beberapa hari mendatang tersebut.










