TVRINews – Bolivar, Venezuela
Operasi gabungan AS-Venezuela berhasil melumpuhkan buronan kelas kakap paling dicari
Amerika Serikat dan Venezuela secara resmi mengonfirmasi kematian Hector Rusthenford Guerrero Flores, yang lebih dikenal sebagai "Nino Guerrero", pendiri sekaligus pemimpin sindikat kriminal transnasional Tren de Aragua.

Kematiannya menyusul sebuah operasi militer presisi yang dilancarkan bersama oleh pasukan Amerika Serikat dan otoritas keamanan Venezuela di sebuah kompleks di negara bagian Bolívar.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan keberhasilan operasi tersebut pada Sabtu 13 Juni 2026 yang segera disusul dengan konfirmasi resmi dari pemerintah Venezuela beberapa jam kemudian kutip AFP.
Operasi "Presisi dan Mematikan"
Dalam sebuah pernyataan melalui platform Truth Social, Presiden Trump menyebut aksi tersebut sebagai "serangan kinetik yang cepat dan mematikan" guna melumpuhkan sosok yang ia kategorikan sebagai pemimpin organisasi teroris paling berbahaya.
"Tren de Aragua tidak lagi memiliki tempat berlindung yang aman di Venezuela maupun di belahan bumi mana pun," ujar Trump. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa operasi ini merupakan hasil koordinasi erat dengan pemerintah Venezuela sebagai bentuk tanggung jawab terhadap para korban kejahatan sindikat tersebut.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, melalui akun X (sebelumnya Twitter), menyatakan bahwa serangan yang dilakukan awal pekan ini menegaskan komitmen bersama antara Washington dan Caracas dalam memerangi narco-terorisme di kawasan tersebut.
Kementerian Komunikasi Venezuela membenarkan bahwa Guerrero Flores tewas dalam operasi gabungan saat terjadi kontak senjata di lokasi persembunyiannya.
Jejak Kejahatan Nino Guerrero
Guerrero Flores (43) merupakan sosok sentral di balik transformasi Tren de Aragua, yang semula hanyalah geng penjara lokal di Venezuela, menjadi perusahaan kriminal transnasional dengan jejaring luas di seluruh Benua Amerika, termasuk di wilayah Amerika Serikat.
Rekam jejak kriminalnya mencakup sejarah pelarian yang dramatis. Ia sempat mengendalikan operasi geng dari dalam Penjara Tocorón selama bertahun-tahun, di mana ia dilaporkan hidup dengan fasilitas mewah, termasuk memiliki kolam renang dan kebun binatang di dalam area penjara.
Setelah meloloskan diri dari penjara pada 2012, ia sempat ditangkap kembali, namun kembali melarikan diri pada tahun 2023 hingga akhirnya terdeteksi di Bolívar.
Pada Desember 2025, jaksa federal di New York secara resmi mendakwa Guerrero Flores atas tuduhan pemerasan, konspirasi untuk memberikan dukungan material kepada teroris, serta konspirasi perdagangan kokain. Jaksa Amerika Serikat,
Jay Clayton, dalam dakwaannya kala itu menyebut Guerrero sebagai otak di balik evolusi geng penjara menjadi organisasi teroris transnasional.
Sebelum kematiannya, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menetapkan reward atau imbalan sebesar US$ 5 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan atau vonis terhadap dirinya.
Kolaborasi militer ini menandai babak baru dalam dinamika geopolitik antara Washington dan pemerintahan pasca-Maduro, sekaligus memperlihatkan pergeseran signifikan dalam strategi penegakan hukum lintas negara terhadap ancaman kriminalitas terorganisir di wilayah Amerika Latin.










