TVRINews, Kuwait
Insiden ini mengakibatkan jatuhnya korban luka dan kerusakan sistem navigasi penerbangan, serta memicu penutupan sementara ruang udara di tengah eskalasi ketegangan regional.
Otoritas pemerintah Kuwait mengonfirmasi bahwa wilayahnya kembali menjadi sasaran serangan udara pada Kamis 11 Juni 2026i waktu setempat. Insiden yang diyakini berasal dari Iran ini secara khusus menargetkan fasilitas radar di bandara internasional negara tersebut, menyebabkan sejumlah warga terluka dan memaksa pihak berwenang menutup ruang udara secara sementara.
Serangan ini merupakan eskalasi terbaru yang menargetkan satu-satunya bandara internasional di Kuwait, menandai insiden kedua dalam kurun waktu kurang dari sepekan.
Otoritas Penerbangan Sipil Kuwait membenarkan adanya kerusakan pada sistem navigasi penerbangan. Melalui laporan resmi yang ditujukan kepada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), pihak otoritas menyatakan bahwa serangan pada pagi hari tersebut menargetkan fasilitas radar utama mereka.
"Insiden ini melukai sejumlah orang dan menyebabkan kerugian material yang signifikan, terutama berdampak pada fasilitas radar, peralatan teknis, serta sistem manajemen lalu lintas udara," ungkap lembaga penerbangan sipil tersebut dalam suratnya yang dikutip AFP Jumat 12 Juni 2026.
Lalu lintas komersial udara kini telah kembali beroperasi normal setelah sempat mengalami penutupan singkat menyusul rentetan serangan tersebut. Sebelum ruang udara dibuka kembali, militer Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah diaktifkan untuk merespons dan menghalau berbagai "target udara yang bermusuhan."
Serangan ke Kuwait ini terjadi tidak lama setelah Amerika Serikat dilaporkan melancarkan operasi militer baru terhadap Iran. Menanggapi pelanggaran wilayah tersebut, Kementerian Luar Negeri Kuwait mengeluarkan pernyataan resmi yang berisi kecaman keras atas apa yang mereka sebut sebagai serangan berulang yang tidak dapat dibenarkan.
Ketegangan di kawasan Teluk memang tengah meningkat. Pekan lalu, Teheran melontarkan tuduhan bahwa Kuwait dan Bahrain memberikan akses kepada militer Amerika Serikat untuk menggunakan wilayah mereka sebagai pangkalan peluncuran serangan terhadap fasilitas Iran.
Pemerintah Kuwait telah membantah keras tuduhan tersebut dan mengambil langkah diplomatik tegas dengan meminta dua staf kedutaan Iran untuk segera meninggalkan negara itu.
Serangan berulang ke infrastruktur sipil ini menambah daftar panjang dampak konflik di kawasan tersebut. Pada 3 Juni lalu, sebuah serangan pesawat nirawak di bandara Kuwait memakan korban jiwa satu warga negara India dan melukai 63 orang lainnya. Pihak medis melaporkan bahwa beberapa korban dari insiden pekan lalu mengalami cedera parah, termasuk trauma kepala dan amputasi.
Insiden berdarah pekan lalu tersebut tercatat sebagai serangan mematikan pertama yang terjadi di kawasan Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran mulai diberlakukan pada 8 April lalu.










