TVRINews – Washington DC
Gagal Capai Kompromi, Blokade Laut dan Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran seiring mandeknya proses negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran kini semakin terbatas untuk mencapai kesepakatan damai.
"Mereka harus bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT PENTING!" tulis Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, menjelang agenda pembicaraan via telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada hari Minggu 17 Mei 2026.
Pernyataan keras tersebut mengemuka di tengah laporan media lokal Iran yang menyebutkan bahwa Washington belum memberikan konsesi konkret atas proposal terbaru yang diajukan Teheran.
Kantor berita semi-pemerintah Iran, Mehr, melaporkan bahwa ketiadaan kompromi dari pihak AS berisiko membawa negosiasi ke dalam jalan buntu.
Ketegangan ini mengulang retorika serupa yang disampaikan Trump sebelum gencatan senjata awal April lalu, di mana ia sempat memperingatkan bahwa "seluruh peradaban" dapat hancur jika Iran menolak kesepakatan.
Pada pertengahan pekan ini, Trump bahkan menyebut status gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi kritis setelah dirinya menolak tuntutan Teheran yang dinilainya "sama sekali tidak dapat diterima."
Tarik Ulur Proposal dan Syarat Nuklir
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyanggah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa proposal yang diajukan negaranya bersifat "bertanggung jawab" dan "murah hati."
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, draf proposal Iran mencakup tuntutan penghentian perang segera di semua lini termasuk serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran serta pencabutan blokade laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran, disertai jaminan keamanan dari serangan lanjutan.
Teheran juga menuntut ganti rugi atas kerusakan perang dan penegasan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz.
Sebagai respons, Washington dilaporkan mengajukan lima syarat tandingan. Menurut kantor berita Fars, salah satu poin krusial yang diminta AS adalah pembatasan fasilitas nuklir Iran menjadi hanya satu situs yang beroperasi, serta kewajiban transfer seluruh cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke Amerika Serikat.
Meski demikian, terdapat indikasi pergeseran sikap dari Gedung Putih. Trump mengisyaratkan bersedia menerima penangguhan program nuklir Iran selama 20 tahun, sebuah langkah yang dinilai melunakkan tuntutan awal AS yang sebelumnya mendesak penghentian total program tersebut.
Dampak Ekonomi Global
Konflik terbuka antara pasukan koalisi AS-Israel dan Iran sendiri dimulai sejak serangan udara besar-besaran pada 28 Februari lalu.
Walau gencatan senjata untuk memfasilitasi dialog sempat disepakati dan sebagian besar dipatuhi, insiden saling balas tembakan masih sesekali terjadi.
Hingga saat ini, Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Penutupan jalur perairan strategis yang menjadi rute bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia tersebut dilakukan Teheran sebagai respons atas serangan AS dan Israel. Akibatnya, harga minyak mentah di pasar internasional mengalami lonjakan signifikan.
Guna menekan Teheran agar menerima poin-poin kesepakatan, AS terus memperketat blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.
Sementara itu, Pakistan yang bertindak sebagai mediator internasional terus mengupayakan titik temu, meskipun posisi kedua belah pihak saat ini dilaporkan masih terpaut sangat jauh.










