TVRINews – Abu Dhabi
Kebakaran Akibat Drone di Dekat Reaktor Barakah Picu Ketegangan Baru Timur Tengah
Uni Emirat Arab (UAE) secara resmi menuduh Iran atau kelompok proksinya berada di balik serangan pesawat nirawak (drone) yang memicu kebakaran di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah.
Otoritas Abu Dhabi mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai "eskalasi yang berbahaya."
Kebakaran yang terjadi di luar area inti PLTN Barakah dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa maupun alarm radiasi.
Regulator nuklir Emirat juga memastikan bahwa tidak ada kebocoran radioaktif atau risiko yang mengancam keselamatan publik.
Meski demikian, insiden ini terjadi di tengah situasi yang sangat krusial, tepat pada minggu keenam gencatan senjata perang Iran. Saat ini, proses negosiasi damai dilaporkan mengalami kebuntuan.
Respons Keras Gedung Putih
Merespons kebuntuan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan ketidaksabarannya atas situasi yang stagnan ini melalui platform media sosial miliknya.
"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka harus segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU ADALAH HAL UTAMA!" tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Berdasarkan laporan media Axios, Trump telah menggelar pertemuan dengan para penasihat keamanan nasional pada hari Sabtu di klub golf miliknya di Virginia. Ia dijadwalkan kembali bertemu dengan tim keamanan nasional pada hari Selasa mendatang guna membahas opsi-opsi strategis yang tersedia.
Selain itu, Trump dikabarkan telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang rapat kabinet keamanan Israel. Pertemuan tersebut membahas situasi terkini di Iran, Lebanon, dan Gaza, di tengah spekulasi yang berkembang bahwa perang Iran berpotensi pecah kembali jika tidak ada tanda-tanda kompromi.
Diplomasi Regional dan Kecaman Internasional
Menurut laporan media resmi pemerintah, Menteri Luar Negeri UAE, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan, langsung mengadakan pembicaraan intensif dengan sejumlah negara di kawasan, termasuk Arab Saudi. Riyadh, yang belakangan ini memiliki hubungan yang dinamis dengan Abu Dhabi, turut menyampaikan kecaman keras atas serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri UAE juga telah menginformasikan detail serangan drone ini kepada Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi. Dalam komunikasinya, Sheikh Abdullah menegaskan bahwa negaranya memiliki hak penuh untuk merespons "serangan teroris" semacam itu.
Melalui pernyataan resminya di media sosial, pihak IAEA menyatakan bahwa Grossi mengungkapkan keprihatinan yang mendalam atas insiden ini.
"Aktivitas militer yang mengancam keselamatan nuklir sama sekali tidak dapat diterima," tegas Rafael Grossi.
Investigasi Koridor Barat
Kementerian Pertahanan UAE menjelaskan bahwa drone yang menargetkan PLTN Barakah merupakan satu dari tiga pesawat nirawak yang terdeteksi memasuki wilayah udara negara tersebut dari arah perbatasan barat.
Objek terbang tanpa awak tersebut dilaporkan menghantam sebuah generator listrik yang terletak di luar perimeter dalam PLTN Barakah, yang berada di wilayah Al Dhafra.
"Investigasi masih terus berlangsung untuk menentukan sumber utama serangan ini, dan pembaruan informasi akan disampaikan setelah penyelidikan selesai," demikian pernyataan resmi Kementerian Pertahanan UAE.
Sementara itu, Anwar Gargash, penasihat kepresidenan Emirat, secara terbuka mengarahkan telunjuknya kepada Teheran maupun kelompok afiliasinya di kawasan.
"Penargetan teroris terhadap PLTN Barakah, baik yang dilakukan oleh pelaku utama maupun melalui salah satu agennya, merupakan bentuk eskalasi yang berbahaya," tulis Gargash melalui akun resminya di platform X.
Gargash menambahkan bahwa insiden ini merupakan "potret kelam yang melanggar seluruh hukum serta norma internasional," dan menuduh pihak yang bertanggung jawab telah mengabaikan keselamatan nyawa warga sipil.










