TVRINews – Makkah
Jemaah Lansia Asal Maros Menabung 20 Tahun di Ember hingga Menjadi Ikon Dokumenter Arab Saudi
Langkah kaki Dada Jumariah bergetar saat memasuki pelataran Masjidil Haram. Di bawah terik matahari Makkah yang menyengat, perempuan lanjut usia itu menyeka keringat di wajahnya menggunakan ujung kerudung hitam.
Ketika pandangannya lurus menatap Ka'bah bangunan kubus suci yang diselimuti kain kiswah hitam megah pertahanan emosionalnya runtuh. Air mata kerinduan yang ia pendam selama puluhan tahun tumpah seketika.
Bagi Jumariah, momen tersebut adalah perwujudan dari doa-doa yang ia langitkan dalam kesunyian hidupnya di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sejak berpisah dengan suaminya, ia menjalani hari-hari seorang diri tanpa pendamping hidup.
"Saya sangat bahagia bisa melihat Ka'bah secara langsung," ujar Jumariah kepada tim peliput Media Center Haji, dengan suara bergetar saat ditemui di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah, tempat menginap jemaah Kloter 14 Embarkasi Makassar (UPG-14).
Matanya kembali berkaca-kaca sebelum jemari rentanya menyeka air mata itu dengan cepat.
Keteguhan di Balik Kesunyian
Di kampung halamannya, Jumariah yang kini diperkirakan berusia sekitar 70 tahun, terbiasa dengan kesendirian.
Rutinitas hariannya dimulai sejak fajar: memberi makan ayam peliharaan, merawat rumah panggungnya, dan menyiapkan sarapan sederhana untuk diri sendiri.
Menginjak pukul 9 pagi, ia mulai bekerja fisik di ladang. Berbekal sabit, ia merawat kebun ubi milik tetangga sebelum berjalan kaki sejauh 50 meter menuju sawah miliknya yang seluas 15 are.
"Semua proses dari menanam, merawat, hingga panen saya lakukan sendiri. Dulu masih menggunakan sabit, sekarang bersyukur sudah dibantu mesin," kenangnya sembari tersenyum.
Meski hidup sebatang kara, keyakinan spiritual yang kuat membuatnya tidak pernah merasa benar-benar sendiri. Iman itulah yang memicu tekadnya untuk menginjakkan kaki di tanah suci, berapa pun biaya yang harus dikumpulkan.
Menabung di Dalam Ember
Jumariah tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan tidak bisa membaca maupun menulis. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan niatnya yang telah bulat sejak dua dekade lalu.
Secara konsisten dan rahasia, ia menyisihkan sebagian pendapatan dari hasil buruh tani ke dalam sebuah ember di rumahnya.
"Uang hasil keringat itu saya kumpulkan sedikit demi sedikit di dalam ember," ungkapnya polos. Jika ia mendapatkan upah sebesar Rp110 ribu, ia akan langsung menyisihkan Rp50 ribu untuk ditabung.
Pada tahun 2011, setelah tabungan di dalam ember tersebut mencapai Rp25 juta, ia memberanikan diri untuk mendaftar haji dengan dibantu oleh keponakannya. Sejak saat itu, usahanya untuk melunasi sisa biaya haji justru semakin intensif.
Ketika namanya resmi dinyatakan berhak berangkat pada musim haji 2026, antusiasmenya tidak terbendung.
Ia rela menempuh jarak 15 kilometer dari rumahnya demi mengikuti kegiatan manasik. Dari total 80 sesi manasik yang diselenggarakan oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), ia hadir tanpa absen dan selalu duduk di barisan terdepan untuk menyimak arahan.
Menjadi Ikon Global "Makkah Route"
Kegigihan luar biasa dari Jumariah menarik perhatian Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros.
Profil hidupnya kemudian diajukan kepada Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk diangkat ke dalam video dokumenter program internasional "Makkah Route".
"Pertimbangan utama kami adalah latar belakang kesehariannya. Beliau hidup mandiri sebatang kara di wilayah terpencil, namun memiliki daya inspirasi yang sangat besar," kata Sitti Hawaisyah, Ketua Kloter UPG-14.
Proses pengambilan gambar di Maros hanya berlangsung selama empat jam. Kini, dokumenter singkat mengenai kehidupan perempuan pemetik ubi tersebut bertransformasi menjadi materi promosi global Pemerintah Arab Saudi dalam menyambut musim haji 2026. Jumariah telah menjadi figur inspiratif internasional.
Stamina Prima di Usia Senja
Perjalanan ke tanah suci juga menandai pengalaman pertama Jumariah menaiki pesawat terbang menuju Madinah. "Awalnya sempat ada rasa takut saat pesawat lepas landas, namun setelah itu perjalanan terasa sangat nyaman," tuturnya.
Selama berada di Kota Madinah, kondisi fisiknya terbukti sangat prima. Ia mampu melaksanakan iktikaf di Masjid Nabawi dari waktu asar hingga isya berjamaah. Dengan bantuan rekan sekelompoknya, ia juga berhasil melaksanakan salat di Raudhah.
Ketahanan fisik tersebut berlanjut saat ia tiba di Makkah pada Sabtu 9 Mei 2026, Jumariah tercatat telah menyelesaikan tiga kali ibadah umrah, yang terdiri dari satu umrah wajib dan dua umrah sunnah, tanpa mengeluhkan kondisi kesehatan.
"Pada kartu identitas saya terdapat indikator merah yang menandakan riwayat medis khusus. Namun, pada gelang identitas Nenek Jumariah bersih, menandakan beliau dalam kondisi kesehatan yang sangat prima," ujar Sitti Hawaisyah.
Kekaguman senada disampaikan oleh Marwati, tetangga sekaligus rekan satu kloternya dari Maros.
"Beliau adalah yang paling bersemangat selama pelaksanaan umrah. Kami yang berusia lebih muda sering kali merasa kelelahan, sementara beliau tetap kuat berjalan," jelasnya.
Saat ditanyakan mengenai rahasia kesehatannya, Jumariah memberikan jawaban sederhana: konsisten bekerja di sawah setiap hari dan mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup.
Selain itu, ia selalu berupaya menghindari stres dan mengonsumsi makanan yang disediakan oleh petugas tanpa bersikap pemilih.
Kini, Jumariah sedang mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji, yakni wukuf di Padang Arafah.
Dalam hitungan hari, di bawah hamparan langit Arafah, perempuan yang terbiasa dalam kesunyian ini akan menuntaskan rindu mendalam yang selama 20 tahun ia simpan rapat di dalam sebuah ember tabungan.










