TVRINews – New York
Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga Jelang Pemilu
Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 persen hingga 4 persen dalam pertemuan terbarunya Rabu 28 Oktober 2026
Strategi ini diambil di tengah dinamika ekonomi domestik yang menunjukkan ketahanan, sekaligus berjarak hanya sepekan sebelum penyelenggaraan pemilihan umum paruh waktu.
Keputusan tersebut sekaligus menandai fase jeda setelah otoritas moneter sebelumnya menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September lalu. Kendati demikian, kebijakan kali ini tidak diambil secara bulat oleh seluruh Dewan Gubernur.
Tercatat dua pejabat tinggi bank sentral, yakni Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, memilih jalur berbeda dengan menghendaki kenaikan lanjutan ke level 4 persen hingga 4,25 persen.
Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menjelaskan bahwa keputusan menahan suku bunga didasari oleh kebutuhan untuk memantau perkembangan data ekonomi secara lebih komprehensif.
Menurutnya, inflasi domestik memang masih berada di atas tingkat yang ideal, namun sejumlah indikator pengetatan kondisi kredit mengisyaratkan bahwa perekonomian nasional sedang bergerak menuju arah yang tepat.
"Banyak variabel dapat terjadi ke depan, sehingga kami memerlukan informasi yang lebih rinci sebelum menentukan langkah kebijakan selanjutnya," ujar Warsh ketika memberikan keterangan pers terkait arah kebijakan moneter tersebut.
Melalui pendekatan berbasis data ini, bank sentral berupaya menyeimbangkan antara upaya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas pasar tenaga kerja. Pengetatan moneter yang telah ditempuh sebelumnya dinilai mulai menunjukkan efektivitas secara bertahap, meskipun otoritas tetap berhati-hati dalam merespons ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Bagi masyarakat luas, kebijakan mempertahankan suku bunga acuan ini membawa implikasi langsung terhadap sektor keuangan sehari-hari. Biaya pinjaman untuk produk konsumtif seperti KPR, kartu kredit, dan pembiayaan kendaraan bermotor diperkirakan tidak akan mengalami lonjakan mendadak dalam waktu dekat. Sebaliknya, imbal hasil atau yield dari instrumen tabungan tunai juga cenderung stabil tanpa kenaikan tambahan.
Federal Reserve dijadwalkan akan kembali menggelar pertemuan lanjutan pada 8 hingga 9 Desember mendatang guna mengevaluasi kembali arah kebijakan moneter berdasarkan rilis data ekonomi makro terbaru.










