TVRINews – Paris Prancis
Langkah strategis meredam lonjakan harga energi global di tengah ketegangan geopolitik, dengan komitmen menahan diri dari kebijakan pembatasan ekspor.
Kelompok negara maju G7 resmi mencapai kesepakatan kolektif untuk melepas 100 juta barel cadangan minyak dan solar ke pasar internasional. Kebijakan darurat ini dirancang untuk meredam tekanan pasokan global yang memicu lonjakan harga, sekaligus mengakhiri ketegangan perdagangan setelah sempat muncul ancaman pembatasan ekspor bahan bakar dari Amerika Serikat.
Berdasarkan pernyataan bersama yang dirilis jumat 2 oktober 2026,usai pertemuan tingkat tinggi tersebut, pelepasan cadangan ini akan dikoordinasikan secara langsung melalui Badan Energi Internasional (IEA) selama periode empat bulan ke depan. Dari total volume tersebut, alokasi khusus berupa pelepasan besar-besaran untuk komoditas solar dijadwalkan mulai mengalir secara agresif dalam 20 hari pertama.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menjelaskan bahwa aksi terkoordinasi ini bertujuan menurunkan harga produk minyak bumi, khususnya solar yang menjadi komoditas vital bagi sektor industri. "Presiden Trump, khususnya, sangat jelas pada poin ini," ujar Macron, merujuk pada komitmen bersama untuk menghindari kebijakan proteksionisme energi.
Sebelum kesepakatan ini tercapai, dinamika sempat memanas menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menuntut negara-negara Eropa untuk segera memasok cadangan mereka ke pasar terbuka guna melindungi konsumen domestik Amerika Serikat dari lonjakan harga menjelang pemilihan paruh waktu.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menegaskan bahwa para petani, pengusaha truk, dan pelaku bisnis di Amerika tidak seharusnya menanggung beban lonjakan harga seorang diri.
Kendati demikian, situasi mereda setelah negosiasi intensif. Trump kemudian mengklarifikasi di Gedung Putih bahwa opsi larangan ekspor solar sebenarnya "tidak pernah benar-benar ada di atas meja."
Dari sudut pandang kebijakan publik di Britania Raya, Menteri Luar Negeri Ed Miliband menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, langkah ini esensial untuk menstabilkan pasokan energi, membangun ketahanan rantai pasok, serta melindungi rumah tangga dan dunia usaha dari guncangan harga yang ekstrem.
Lonjakan harga energi belakangan ini tidak terlepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul invasi ke Iran, yang turut memotong arus distribusi minyak mentah dan produk sulingan global.
Di sisi lain, Rusia sebagai salah satu produsen utama dunia telah menerapkan larangan ekspor solarnya sendiri menyusul serangan terhadap kilang-kilang minyaknya, sementara para pemimpin G7 menegaskan komitmen untuk mempertahankan sanksi ekonomi terhadap Moskow.
Krisis pasokan solar memukul sektor transportasi darat dan agrikultur secara signifikan, mengingat komoditas ini jauh lebih sulit disuling dibandingkan bensin dan memiliki elastisitas permintaan yang rendah.
Di Inggris, harga bahan bakar di SPBU bahkan sempat menembus angka dua pound per liter untuk pertama kalinya, sebuah rekor yang menggarisbawahi tingginya ketergantungan negara tersebut pada impor minyak dari AS.
Kendati pengumuman pelepasan cadangan strategis ini sempat memicu koreksi pada harga acuan minyak mentah Brent yang sempat turun di bawah 100 dolar Amerika Serikat per barel, pasar kembali merespons dinamika geopolitik dengan hati-hati.
Matt Smith, Direktur Riset Komoditas di Kpler, mencatat bahwa harga minyak kembali merangkak naik ke kisaran 102 dolar Amerika Serikat per barel akibat kekhawatiran atas pembaruan konflik militer di kawasan Bab-Al Mandeb.
Sebagai langkah lanjutan jangka menengah, para pemimpin G7 sepakat untuk menyelaraskan jadwal pemeliharaan fasilitas kilang guna mencegah penutupan kilang secara bersamaan, serta mendorong negara-negara anggota yang memiliki kapasitas memadai untuk menggenjot volume penyulingan solar demi menjaga stabilitas pasar global.










