TVRINews – Washington
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengonfirmasi rencana pemangkasan 20 persen jenderal dan laksamana di tubuh militer. Kebijakan tersebut diiringi dengan penegasan sikap keras terhadap keberagaman, yang disampaikan di hadapan para prajurit di Pangkalan Korps Marinir, Quantico, Virginia, Rabu, 30 September 2026.
Dalam pidatonya, Hegseth menegaskan bahwa fokus utama institusi pertahanan saat ini harus berorientasi penuh pada kesiapan tempur dan kedisiplinan.
"Fokus satu-satunya, sebagaimana Anda ketahui dalam formasi Anda, haruslah pelatihan, kesiapan, akuntabilitas, kedisiplinan, dan daya gempur," ujar Hegseth, mengutip pernyataan resminya yang dikutip oleh AP News.
Ia menambahkan bahwa kebijakan internal kini menutup ruang bagi kelompok yang disebutnya sebagai pihak-pihak penghambat kinerja. Penataan ulang struktur komando ini menyusul evaluasi mendalam terhadap efektivitas dan birokrasi pertahanan yang berjalan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pemangkasan besar-besaran ini merupakan bagian dari perombakan kultur militer secara menyeluruh. Hegseth menyatakan bahwa perwira tinggi yang tidak sejalan dengan visi kepemimpinan sipil telah diberhentikan.
Di sisi lain, kebijakan tersebut memicu perdebatan publik terkait arah reformasi institusi pertahanan, terutama di tengah tantangan geopolitik global dan isu kesejahteraan mental prajurit yang mengemuka dalam beberapa waktu terakhir.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Pentagon juga mengumumkan kemitraan strategis pendidikan baru dengan sejumlah institusi akademik bernuansa konservatif, serta menggandeng tokoh teknologi guna meninjau masa depan strategi peperangan modern.










