TVRINews – London, Inggris
Program "Satu Masuk, Satu Keluar" Ditangguhkan Setelah Angka Penyeberangan Menurun.
Pemerintah Inggris mengumumkan pembatalan program percontohan kerja sama bilateral dengan Prancis yang dirancang untuk menekan angka migran melintasi Selat Inggris menggunakan kapal kecil.
Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis oleh Home Office (Kementerian Dalam Negeri Inggris) pada Rabu, 30 September 2026, mekanisme yang dikenal dengan sebutan kesepakatan "satu masuk, satu keluar" tersebut kini sudah tidak lagi memproses kasus baru.
Inisiatif yang semula direncanakan berjalan selama tiga tahun ini memungkinkan otoritas Inggris menahan dan memulangkan pencari suaka yang tiba melalui penyeberangan berbahaya ke Prancis, sebagai imbalan atas penerimaan jumlah migran yang sepadan melalui jalur yang aman dan legal.
Sejak pertama kali digulirkan, tercatat sekitar 1.500 jiwa telah dikembalikan ke Prancis, sementara jumlah yang sedikit lebih rendah berhasil dipindahkan ke wilayah Inggris. Meskipun klausul perjanjian memungkinkan pengakhiran kerja sama lebih awal, Home Office menegaskan bahwa kolaborasi strategis antar kedua negara tetap berjalan.
"Kami terus bekerja sama dengan Prancis untuk mengatasi penyeberangan kapal kecil secara tanpa henti, dan kami telah membuat kemajuan nyata," demikian pernyataan resmi yang disampaikan oleh Home Office, seperti dikutip dari Associated Press (AP).
Meski program tersebut resmi dihentikan, pemerintah Inggris memastikan bahwa penerbangan deportasi akan tetap dilanjutkan dalam beberapa pekan mendatang khusus bagi para migran yang telah berada dalam tahanan.
Situasi geopolitik dan dinamika lapangan saat ini dilaporkan jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah migran yang nekat melakukan penyeberangan mengalami penurunan drastis hingga menyentuh titik terendah dalam lima tahun terakhir, yang dipengaruhi oleh peningkatan patroli kepolisian serta pengawasan ketat di wilayah Prancis bagian utara.
Hingga periode tahun ini, sekitar 19.000 orang tercatat telah melakukan penyeberangan, turun sekitar 40% dari catatan periode yang sama pada tahun lalu.
Kendati demikian, ancaman keselamatan jiwa tetap menjadi bayang-bayang nyata dalam setiap upaya penyeberangan ilegal. Risiko besar tersebut kembali terbukti pada Senin lalu, ketika seorang anak berusia 10 tahun dan dua perempuan meninggal dunia, yang diduga akibat terinjak-injak di atas perahu penuh sesak yang mengangkut lebih dari 100 orang.
Kerja sama penanganan migrasi lintas batas ini sempat mengalami jalan buntu menyusul perpisahan resmi Inggris dari Uni Eropa melalui proses Brexit pada tahun 2020. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara tetangga tersebut berupaya merajut kembali berbagai kesepakatan guna meredam krisis kemanusiaan dan keamanan di perbatasan maritim mereka.
Isu penyeberangan migran via kapal kecil sendiri telah bertransformasi menjadi diskursus politik yang sangat sensitif di Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Frustrasi publik atas ketidakmampuan pemerintah berturut-turut dalam mengatasi masalah ini bahkan sempat memicu gelombang demonstrasi, kerusuhan sosial, serta mendongkrak popularitas partai sayap kanan Reform UK di kancah politik domestik.










