TVRINews – Gaza
Krisis kemanusiaan, keruntuhan ekonomi, dan hancurnya infrastruktur mendefinisikan ulang cara hidup dua juta warga Palestina di tengah bayang-bayang konflik berkepanjangan.
7 Oktober 2026, Tiga tahun setelah eskalasi besar yang meletus pada Oktober 2023, wilayah kantong Palestina di Gaza telah berubah tanpa bisa dikenali. Serangan udara dan darat yang berlangsung terus-menerus telah menghancurkan sebagian besar wilayah, merobohkan kawasan permukiman, serta melumpuhkan layanan publik dan infrastruktur esensial yang menopang kehidupan masyarakat.

(Asap tebal dari ledakan di salah satu gedung Universitas Islam Gaza di Kota Gaza, pada 14 September 2025. (Foto: Omar Al-Qattaa/AFP))
Konflik ini telah mengguncang kehidupan sekitar dua juta penduduk. Perpindahan tempat tinggal yang terjadi berulang kali akibat perintah evakuasi telah mencerai-beraikan keluarga dan komunitas. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza hingga 7 Oktober 2026, lebih dari 74.245 warga Palestina dilaporkan tewas sejak awal konflik.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, hal tersebut belum sepenuhnya menghentikan penderitaan di lapangan. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa 1.462 warga Palestina tetap tewas sejak gencatan senjata tersebut diberlakukan, seiring dengan masih berlangsungnya aktivitas militer di berbagai wilayah Jalur Gaza.
Bertahan di Tengah Reruntuhan
Bagi masyarakat di Gaza, perang tidak hanya mengubah tempat mereka tinggal, tetapi juga merombak total cara mereka menjalani aktivitas harian yang paling mendasar. Rumah layak hancur, sementara akses air bersih, aliran listrik, dan sarana transportasi praktis tidak lagi tersedia bagi sebagian besar warga.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September menyebutkan bahwa 94 persen populasi Gaza berada dalam kebutuhan mendesak akan tempat tinggal dan bantuan rumah tangga.

(Warga sipil Palestina mengantre selama berjam-jam untuk pembagian bantuan Makanan di Kamp Pengungsian Nuseirat, Gaza tengah, pada 1 September 2025. (Foto: Moiz Salhi/Anadolu))
Sebanyak 65 persen keluarga terpaksa tinggal di dalam tenda atau tempat perlindungan darurat yang minim perlindungan dari cuaca ekstrem.
Krisis air bersih turut menjadi tantangan harian yang berat. Sebanyak 91 persen rumah tangga mengalami kerawanan air tingkat sedang hingga tinggi pada awal Agustus lalu. Krisis ini diperparah oleh ketiadaan jaringan listrik yang berfungsi, memaksa warga dan fasilitas esensial mengandalkan generator dengan pasokan bahan bakar, oli mesin, dan suku cadang yang semakin langka.
Lumpuhnya Sektor Ekonomi dan Pendidikan
Kerusakan ekonomi di Gaza mencapai titik nadir setelah hancurnya berbagai unit usaha dan industri lokal. Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperkirakan bahwa 92 persen fasilitas ekonomi di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran total sejak Oktober 2023, dengan tingkat pengangguran melonjak hingga 78 persen.
Dampak ekonomi ini dirasakan langsung oleh konsumen. Pada September, harga barang-barang kebutuhan pokok tercatat masih bertahan sekitar 200 persen di atas tingkat harga sebelum Oktober 2023. Seiring hilangnya pekerjaan formal, aktivitas ekonomi bergeser pada bantuan kemanusiaan, utang, dan pekerjaan informal skala kecil.
Rami al-Zaygh, seorang peneliti ekonomi, mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa perang ini telah "menyeret masyarakat mundur beberapa dekade," memunculkan kembali profesi-profesi lama serta menciptakan bentuk pekerjaan baru dengan peralatan seadanya dan sumber daya yang tersisa.
Di sektor pendidikan, hampir 98 persen sekolah mengalami kerusakan atau hancur, menurut catatan UNICEF. Hingga April 2026, sekitar 700.000 anak usia 4 hingga 17 tahun telah kehilangan hampir tiga tahun masa pendidikan formal secara langsung, memaksa sebagian dari mereka belajar di tenda-tenda darurat demi mengejar ketertinggalan akademik.
Sistem Kesehatan di Ambang Keruntuhan
Sistem kesehatan Gaza terdorong mendekati jurang kehancuran. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa seluruh 36 rumah sakit di Gaza mengalami kerusakan, dan hanya 19 fasilitas yang saat ini masih beroperasi secara parsial tanpa kapasitas penuh.

(Warga di lingkungan Sheikh Radwan, Kota Gaza, mengumpulkan air dari truk tangki 27 April 2026. (Foto: Anadolu))
Kekurangan obat-obatan esensial, perlengkapan medis, dan bahan bakar menghambat penanganan pasien kanker, dialisis, serta penyakit kronis. Sejak Oktober 2023, sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi secara medis, namun WHO menyatakan puluhan ribu pasien lainnya masih membutuhkan perawatan spesialis yang tidak tersedia di dalam wilayah Jalur Gaza.
Perubahan demografi dan penyempitan ruang hidup akibat garis demarkasi militer turut memperketat konsentrasi populasi di sebagian kecil wilayah. Hal ini meningkatkan risiko wabah penyakit di tengah kondisi sanitasi yang buruk, sebagaimana diperingatkan oleh berbagai lembaga kemanusiaan internasional.










