TVRINews – Gaza
Konflik Gaza Memasuki Babak Baru: Gencatan Senjata Rapuh di Tengah Pendudukan yang Meluas.
Setahun setelah inisiatif perdamaian yang dimotori oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi digulirkan, situasi di Jalur Gaza dilaporkan masih jauh dari kata stabil. Berdasarkan laporan investigatif yang dihimpun dari sejumlah media internasional terkemuka, eskalasi militer dan krisis kemanusiaan di wilayah kantong tersebut terus berlanjut tanpa penyelesaian yang komprehensif.
Meskipun kesepakatan awal sempat membuahkan gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 serta memfasilitasi pembebasan para sandera dan tahanan, implementasi lanjutan dari cetak biru perdamaian tersebut menghadapi jalan buntu.
Hingga kini 7 Oktober 2026 jelang 1 tahun, militer Israel dilaporkan masih menguasai sekitar dua pertiga wilayah Gaza, sementara proses pelucutan senjata kelompok Hamas dan pembangunan kembali infrastruktur yang hancur belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Berdasarkan data dari kementerian kesehatan setempat, sedikitnya 1.400 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat serangan yang terus berlanjut sejak gencatan senjata disepakati.

(Anak-anak Palestina berdiri di atas atap sebuah bangunan di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 5 Oktober 2026. [Foto: AFP])
Di sisi lain, militer Israel menegaskan bahwa operasi militer yang dilakukan merupakan langkah terukur untuk menargetkan sisa kekuatan Hamas serta mencegah potensi ancaman keamanan.
Kendati arus bantuan kemanusiaan mengalami peningkatan, lembaga pemantau global Integrated Food Security Phase Classification (IPC) mencatat bahwa lebih dari 1,2 juta jiwa masih menghadapi ancaman kelaparan akut.
Volume pasokan logistik harian dinilai belum memenuhi standar minimum yang ditetapkan dalam kerangka rencana perdamaian, di tengah pembatasan ketat terhadap sejumlah material esensial yang diberlakukan oleh otoritas keamanan Israel.

(Seorang petugas pemadam kebakaran Palestina memadamkan api yang melalap mobil-mobil akibat serangan yang diduga dilakukan oleh Israel di Ramallah, Tepi Barat, 4 Oktober 2026. [Foto: AFP])
Terkait masa depan tata kelola wilayah, Dewan Perdamaian pimpinan AS sebelumnya telah merancang pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) serta komite pemerintahan teknokratis Palestina.
Namun, perbedaan pandangan politik yang tajam antara pihak Israel dan faksi-faksi di Gaza, ditambah perdebatan seputar agenda rekonstruksi bernilai miliaran dolar, terus menjadi hambatan utama dalam mewujudkan stabilitas jangka panjang di kawasan tersebut.










