TVRINews – Seoul, Korea Selatan
Seoul Dorong Kemandirian Militer di Tengah Pemangkasan Latihan Gabungan oleh Washington
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menegaskan kembali tekad pemerintahannya untuk mengambil alih kendali operasional masa perang (OPCON) militer negara dari Amerika Serikat sebelum masa jabatannya berakhir pada 2030.
Desakan ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan pengurangan drastis pada skala latihan militer gabungan kedua negara.
Berbicara dalam rapat kabinet Selasa 18 Agustus 2026 di Seoul, Lee menyatakan bahwa Korea Selatan harus melanjutkan rencana pengalihan komando tersebut "tanpa goyah." Ia menilai bahwa peningkatan kapabilitas pertahanan mandiri dan aliansi strategis dengan Amerika Serikat merupakan dua elemen yang saling memperkuat.
"Aliansi yang kuat membangun fondasi keamanan yang lebih kokoh, dan memperkuat kapabilitas kita sendiri meningkatkan nilai serta kebutuhan kita sebagai sekutu," ujar Lee, sebagaimana dikutip dari laporan kantor berita Yonhap.
Lebih lanjut, Lee mendefinisikan pentingnya langkah ini di tengah lanskap keamanan global yang berubah cepat serta pergeseran karakter peperangan modern menuju bentuk hibrida.
Selain masalah OPCON, ia juga menginstruksikan para pejabat terkait untuk mempercepat rencana pengadaan kapal selam bertenaga nuklir serta pengembangan perwira militer yang mampu memimpin operasi terintegrasi di masa depan. Rencana integrasi tiga akademi militer Korea Selatan ke dalam satu institusi tunggal turut ditekankan agar berjalan sesuai jadwal.
Bayang-Bayang Sejarah Semenanjung Korea
Isu komando masa perang berakar dari Perang Korea 1950–1953 yang berakhir melalui gencatan senjata tanpa perjanjian damai formal, menempatkan kedua Korea secara teknis masih dalam status berperang.
Otoritas komando operasional masa perang diserahkan kepada Komando PBB pimpinan AS selama konflik berlangsung, sebelum dialihkan ke Komando Pasukan Gabungan Korsel-AS pada 1978.
Meskipun Korea Selatan telah memegang kendali operasional masa damai sejak 1994, komando masa perang tetap berada di tangan Washington melalui jenderal bintang empat AS yang memimpin Komando Pasukan Gabungan.
Upaya merebut kembali OPCON masa perang telah menjadi target kebijakan keamanan Seoul selama lebih dari dua dekade, kendati kerap mengalami penundaan di bawah pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Kehadiran militer AS sendiri tetap dipertahankan di Korea Selatan, termasuk di Camp Humphreys yang diidentifikasi sebagai pangkalan militer luar negeri terbesar Amerika Serikat.
Keputusan Trump dan Dinamika Diplomasi
Kebijakan terbaru Seoul merespons langkah Presiden Donald Trump yang menginstruksikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk "secara substansial mengurangi" latihan militer Ulchi Freedom Shield.
Melalui platform Truth Social, Trump mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap keterlibatan AS dalam latihan tersebut dengan alasan biaya serta hubungannya dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Trump menilai latihan gabungan itu mengirimkan sinyal yang "tidak pantas dan penuh permusuhan."
Kendati demikian, latihan Ulchi Freedom Shield yang melibatkan sekitar 18.000 personel militer Korea Selatan, pasukan AS, serta perwakilan dari belasan negara anggota Komando PBB tetap dimulai sesuai jadwal dengan durasi sekitar sepuluh hingga sebelas hari. Latihan ini sejatinya dirancang untuk menguji tingkat kesiapan Seoul dalam mengemban transisi kendali operasional masa perang.
Dalam keterangannya kepada para wartawan di Ruang Oval, Washington, Trump mengeklaim bahwa Kim Jong Un telah memberikan respons positif terhadap keputusan pengurangan latihan militer tersebut. Ia kembali memuji hubungannya dengan pemimpin Korea Utara itu, seraya menegaskan bahwa pendekatan diplomasinya berhasil menciptakan situasi yang lebih aman di kawasan.
Washington kerap menyesuaikan atau menangguhkan latihan militer skala besar di Semenanjung Korea demi menjaga saluran dialog diplomatik dengan Pyongyang, sebuah pola yang sebelumnya juga terlihat pada masa jabatan pertama Trump menyusul KTT tahun 2018.










