TVRINews – Beijing
Washington berupaya menekan Beijing terkait impor minyak di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu 13 Mei 2026 mendatang, untuk melakukan pertemuan krusial dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.
Pertemuan diplomasi tingkat tinggi ini adalah eskalasi perang Iran dan upaya penyeimbangan kembali hubungan ekonomi kedua negara.
Wakil Sekretaris Pers Utama Gedung Putih, Anna Kelly, mengonfirmasi bahwa rangkaian agenda resmi akan dimulai dengan upacara pembukaan dan pertemuan bilateral pada Kamis 14 Mei pagi. Kunjungan ini, menurut Kelly, membawa "signifikansi simbolis yang luar biasa" bagi kebijakan luar negeri AS.
"Fokus utama kami adalah menyeimbangkan kembali hubungan dengan Tiongkok, memprioritaskan timbal balik dan keadilan demi memulihkan kemandirian ekonomi Amerika," ujar Kelly dalam keterangan resminya.
Diplomasi di Tengah Krisis
Kunjungan ini dilakukan di tengah tekanan domestik dan internasional yang dihadapi Presiden Trump akibat dampak perang antara AS-Israel melawan Iran.
Sebelumnya, kunjungan ini sempat tertunda pada Maret lalu akibat situasi keamanan yang memanas di kawasan tersebut.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengungkapkan bahwa Trump kemungkinan besar akan menggunakan pertemuan ini untuk "menerapkan tekanan" kepada Beijing.
Washington menyoroti peran Tiongkok dalam pembelian minyak Iran serta pengadaan barang-barang yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil oleh Teheran.
Sentimen senada dipertegas oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang secara terbuka menuding Beijing memberikan sokongan finansial bagi Teheran.
"Iran adalah sponsor terorisme negara terbesar, dan Tiongkok telah membeli 90 persen energi mereka. Dengan demikian, mereka mendanai entitas tersebut," tegas Bessent dalam wawancara dengan Fox News.
Dampak Ekonomi Global
Ketegangan ini kian meruncing setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS-Israel. Langkah tersebut melumpuhkan jalur arteri utama transportasi energi dunia, yang berdampak sistemik terhadap ekonomi global, khususnya negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak Timur Tengah.
Di sisi lain, Beijing tetap teguh pada posisi diplomatiknya. Meski telah menjamu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Arraghchi, pekan lalu dan menyerukan penghentian perang, Tiongkok secara konsisten menolak mengakui sanksi sepihak yang dijatuhkan Washington terhadap sektor minyak Iran.
Agenda Perdagangan dan Keamanan
Selain isu Iran, pembicaraan ini diprediksi akan mencakup dukungan Tiongkok terhadap Rusia, isu perdagangan, hingga akses terhadap mineral tanah jarang (rare earth) yang menjadi komponen vital sektor teknologi AS.
Guna memperkuat agenda ekonomi, delegasi AS turut menyertakan para eksekutif dari perusahaan manufaktur dirgantara Boeing serta sektor agrikultur.
Terkait isu sensitif Taiwan, pejabat senior AS menyatakan tidak ada perubahan posisi resmi Washington. Meskipun Tiongkok menegaskan kedaulatannya atas pulau tersebut, Amerika Serikat tetap mempertahankan komitmen keamanan dan ekonomi yang mendalam terhadap Taiwan.










