TVRINews, Beirut
Petugas Medis Turut Menjadi Korban di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata yang Terus Meningkat.
Eskalasi serangan udara Israel di wilayah selatan Lebanon dalam 24 jam terakhir telah merenggut sedikitnya 51 nyawa, termasuk dua petugas medis. Insiden ini menambah deretan panjang korban jiwa sejak operasi militer baru dimulai pada Maret lalu, sekaligus mempertegas rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa serangan terbaru tersebut secara spesifik menyasar titik-titik otoritas kesehatan di Qalawiya dan Tibnin, Distrik Bint Jbeil.
"Musuh Israel terus melanggar hukum internasional dan norma kemanusiaan dengan menambah daftar kejahatan terhadap paramedis," tegas pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Lebanon, sebagaimana dikutip dari laporan lapangan Al Jazeera.
Ancaman Terhadap Tenaga Medis
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan gambaran yang suram bagi para pekerja kemanusiaan di garda terdepan. Sejak 2 Maret, sedikitnya 103 petugas medis Lebanon gugur dan 230 lainnya luka-luka dalam lebih dari 130 serangan udara Israel.
Kondisi psikologis para penyintas pun berada di titik nadir. Ali Safiuddin, Kepala Pertahanan Sipil Lebanon di Tyre, mengungkapkan bahwa maut seolah mengintai setiap detik.
"Kami bertanya pada diri sendiri apakah kami akan selamat atau mati. Kami sadar bahwa kami telah menyerahkan hidup kami dengan bekerja di sini.
Kami telah kehilangan begitu banyak rekan, dan rasanya seolah kami pun sudah tiada," ujar Safiuddin kepada Al Jazeera.
Pola Serangan yang Konsisten
Pengamat internasional dan praktisi medis melihat adanya kemiripan pola serangan ini dengan konflik di wilayah lain. Dr. Tahir Mohammed, seorang ahli bedah perang yang pernah bertugas di Gaza dan kini berada di Lebanon, menyebut adanya konsistensi dalam penargetan infrastruktur kesehatan.
"Saya telah melihat rekan sejawat, perawat, hingga mahasiswa kedokteran tewas oleh senjata Israel. Melihat kebijakan serupa yang menargetkan tenaga medis di Lebanon... ini sangat konsisten," ujar Dr. Mohammed.
Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut menunjukkan pengabaian total terhadap perlindungan nyawa manusia.
Krisis Kemanusiaan yang Meluas
Meskipun gencatan senjata secara resmi dimulai pada 16 April, intensitas serangan justru dilaporkan meningkat. Berikut adalah data dampak konflik sejak 2 Maret:
• Total Korban Jiwa: 2.846 orang di seluruh Lebanon.
• Warga Terlantar: Lebih dari 1,2 juta orang kehilangan tempat tinggal.
• Korban Medis: 103 jiwa gugur dalam tugas.
Koresponden Al Jazeera, Obaida Hitto, melaporkan dari Tyre bahwa meskipun hukum kemanusiaan internasional memberikan perlindungan jelas bagi responden pertama,
kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Tantangan krusial saat ini bukan lagi tentang kapan serangan berikutnya akan datang, melainkan berapa banyak personel yang tersisa untuk merespons panggilan darurat masyarakat.
Hingga saat ini, operasi militer Israel di Lebanon selatan terus memicu kekhawatiran global akan terjadinya pendudukan wilayah secara permanen, sementara tekanan diplomatik internasional belum mampu membendung pertumpahan darah di wilayah tersebut.










