TVRINews – Washington
Militer Amerika Serikat Siagakan Pasukan di Timur Tengah Menunggu Keputusan Donald Trump
Pasukan militer Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah dilaporkan telah mencapai kesiapsiagaan penuh untuk melancarkan operasi militer skala besar ke Iran. Serangan dapat dieksekusi dalam waktu 96 jam setelah perintah resmi dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump Minggu 25 Oktober 2026.
Berdasarkan laporan komprehensif CNN Internasional yang mengutip keterangan dua pejabat tinggi militer AS, pengerahan personil dan alutsista di wilayah tersebut kini dinilai telah memadai.
Skema operasi yang dirancang diproyeksikan bakal melampaui sasaran konvensional seperti radar atau peluncur rudal, melainkan menyasar infrastruktur strategis yang lebih luas.
"Ini akan menjadi sebuah upaya dan operasi yang sangat besar," ujar salah satu pejabat AS yang meminta identitasnya dirahasiakan, sebagaimana dihimpun dari laporan media internasional tersebut.
Para pengamat dan pejabat pertahanan menilai potensi konfrontasi militer ini hanya tinggal menunggu waktu. Keputusan akhir diperkirakan bakal dieksekusi menjelang akhir tahun, atau kemungkinan besar setelah agenda pemilihan umum sela di Amerika Serikat selesai digelar.
Sasar Fasilitas Energi hingga Nuklir
Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) bersama para petinggi Pentagon dilaporkan telah memetakan daftar target vital secara komprehensif. Daftar sasaran tersebut mencakup infrastruktur energi nasional, pangkalan militer utama, hingga fasilitas pengayaan nuklir milik Iran.
Kendati demikian, pihak Pentagon menyadari adanya tantangan taktis di lapangan. Pasukan keamanan Iran dinilai makin memahami pola dan taktik militer AS, sehingga efektivitas penghancuran seluruh target strategis memerlukan presisi tinggi.
Donald Trump sendiri diindikasikan cenderung mendukung opsi tindakan tegas, meski beberapa kali mengambil langkah mundur pada saat-saat terakhir sebelum keputusan final diambil.
"Kementerian Pertahanan merupakan organisasi perencanaan. Tugas utama kami adalah merancang serta mengeksekusi opsi-opsi militer yang diperintahkan langsung oleh Presiden," ungkap seorang pejabat senior Pentagon mengonfirmasi kesiapan lembaga tersebut.
Isyarat Pertimbangan Politik dan Diplomasi
Di lain sisi, pernyataan resmi dari Gedung Putih menunjukkan masih adanya ruang kalkulasi politik. Saat dikonfirmasi oleh awak media mengenai kemungkinan adanya aksi militer dalam waktu dekat, Presiden Donald Trump memberikan bantahan langsung.
"Apakah saya akan memberitahu Anda? Jawabannya adalah tidak. Tidak akan ada serangan untuk saat ini," kata Trump kepada wartawan.
Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump mengungkapkan bahwa otoritasnya tengah menimbang dua laporan intelijen yang berbeda sebelum mengambil langkah mendasar.
"Apakah saya harus membuat kesepakatan dengan mereka, atau menyelesaikan mereka sepenuhnya? Itu satu-satunya pertanyaan yang ada," tutur Trump. Ia juga menegaskan posisi strategis AS di kawasan dengan menambahkan, "Ingat, kita sekarang mengendalikan Selat Hormuz."
Sementara itu, sumber pejabat AS kepada media i24NEWS mengisyaratkan bahwa arah kebijakan Washington terhadap Teheran dapat berubah sewaktu-waktu, di mana kalkulasi taktis tidak lagi berfokus pada kemungkinan terjadinya serangan, melainkan penentuan momentum.
Antisipasi Balasan Teheran dan Dinamika Regional
Penilaian intelijen Amerika Serikat mengindikasikan bahwa Iran beserta kelompok sekutunya di kawasan, termasuk Houthi, diproyeksikan bakal melakukan tindakan balasan balasan secara langsung terhadap fasilitas dan personil AS di Timur Tengah jika agresi militer benar-benar terjadi.
Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton dalam memo tertulis tertanggal 23 Oktober kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio melaporkan bahwa Iran telah meningkatkan intensitas pergerakan yang menyasar personil AS. Menyikapi perkembangan situasi keamanan tersebut, pemerintah AS secara bertahap mulai menarik personil non-esensial dari kedutaan besar serta menunda rotasi pasukan di kawasan.
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper saat melakukan peninjauan langsung di Selat Hormuz menegaskan komitmen AS dalam menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional.
"Kami terus berdiri bahu-membahu dengan mitra-mitra kami di Teluk dan industri pelayaran. Kunjungan ini menegaskan komitmen kuat kami untuk memastikan kebebasan navigasi yang berkelanjutan di Selat Hormuz," ujar Laksamana Cooper.
Di tingkat diplomasi regional, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan sempat mendorong dilakukannya operasi militer bersama. Namun, pihak Washington meminta sekutunya tersebut untuk menahan diri guna koordinasi teknis yang lebih matang.
Sumber keamanan regional menyebutkan bahwa seluruh rencana taktis kini telah siap di tingkat komando dan tinggal menunggu konfirmasi politik tingkat tinggi pasca-dinamika politik domestik mereda.










