TVRINews Yaman
Eskalasi militer di Laut Merah kian mengancam jalur pelayaran global serta memicu kekhawatiran atas stabilitas kawasan setelah kelompok Houthi merebut wilayah strategis.
Konflik bersenjata di Yaman kembali memanas dan memicu perhatian internasional menyusul langkah kelompok Houthi yang mengklaim telah menguasai Pelabuhan Mocha di pesisir Laut Merah.
Perkembangan ini menandai gelombang pertempuran paling serius dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus mendekatkan kelompok yang didukung Iran tersebut pada kendali penuh atas jalur pelayaran vital internasional.
Berdasarkan laporan yang dihimpun The Guardian kamis 10 september 2026, penguasaan pesisir dan sejumlah pulau di kawasan tersebut dinilai sebagai ancaman strategis bagi Arab Saudi dan Amerika Serikat. Situasi ini menempatkan Iran dan proksinya semakin dekat dalam menguasai dua titik sempit (chokepoints) utama pelayaran barat di Semenanjung Arab, yakni Selat Bab al-Mandab di ujung selatan Laut Merah serta Selat Hormuz di Teluk.
Para pengamat menilai penurunan eskalasi kini hampir tidak mungkin terjadi. Konflik ini dipandang sebagai upaya Houthi membuka front kedua dalam ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, berdampingan dengan peregangan pengaruh di Selat Hormuz.
Baraa Shiban, spesialis Yaman dari lembaga thinktank keamanan yang berbasis di London, Royal United Services Institute (Rusi), menyatakan bahwa situasi di lapangan telah bergerak melampaui kendali.
"Pemerintah Yaman yang diakui PBB membuka front baru terhadap Houthi dengan harapan memberikan tekanan maksimal. Namun, dalam kurun waktu 48 jam terakhir, Houthi justru mencatat kemajuan signifikan ke arah selatan di sepanjang pesisir barat Yaman," ujar Shiban.
Pertempuran sengit ini turut memicu perdebatan mengenai potensi Arab Saudi mengaktifkan perjanjian pertahanan Mekkah guna meminta bantuan militer dari negara sekutu.
Di sisi lain, tujuan utama Houthi dalam menguasai pesisir selatan Pelabuhan Hodeidah adalah memaksa Arab Saudi dan Amerika Serikat menyepakati pencabutan blokade terhadap kapal tanker minyak Iran di Teluk.
Data pemantau konflik Acled mencatat ratusan korban jiwa jatuh dalam eskalasi terbaru ini. Komandan pasukan pemerintah Yaman, Mayor Jenderal Tareq Saleh, mengakui pihaknya harus melakukan penarikan mundur secara strategis dari selatan Mocha guna melakukan reorganisasi pasukan di lokasi yang lebih aman.
"Angkatan bersenjata di pesisir barat harus membayar harga yang mahal selama beberapa hari terakhir saat menghadapi serangan Houthi yang direncanakan dan didukung oleh Iran," ucap Saleh dalam keterangannya.
Sementara itu, analis Yaman dari Acled, Sherwan Hindreen Ali, berpandangan bahwa kedua pihak kini memiliki keseimbangan kapabilitas militer yang relatif lebih setara dibandingkan periode sebelum gencatan senjata tahun 2022.
"Pertempuran kemungkinan besar akan terus berpusat di front pesisir Laut Merah di Hodeidah dan Taiz, di mana kedua pihak sama-sama berambisi menguasai penuh Selat Bab al-Mandab," jelas Ali.
Dampak dari gelombang pertempuran ini juga merembet ke sektor ekonomi global, di mana harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik melewati angka $100 per barel setelah sebelumnya stabil di kisaran $80.
Ketegangan regional ini berakar dari rangkaian insiden sejak bulan Juli, mulai dari blokade laut hingga serangan balasan menggunakan pesawat tanpa awak dan rudal balistik yang menargetkan infrastruktur energi serta instalasi militer di kawasan.










