TVRINews – Teheran
Tehran Siapkan Penyerangan Darat dan Kapal Perang AS Jika Diserang Kembali.
Pemerintah Iran menyampaikan peringatan tertutup kepada sejumlah pejabat kawasan mengenai potensi perluasan konflik militer. Tehran menegaskan kesiapan untuk melakukan operasi darat ke negara tetangga, mengincar fasilitas minyak Arab Saudi, serta menargetkan kapal perang Amerika Serikat (AS) apabila kembali mendapat serangan militer.
Laporan yang dirilis The Wall Street Journal (WSJ) selasa 13 Oktober 2026, dengan mengutip sejumah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, menyebutkan bahwa Iran tengah memperkuat situs-situs nuklir, memperketat kawasan perbatasan, serta memulihkan kapabilitas rudal dan pesawat nirawak (drone). Langkah ini diambil sebagai antisipasi atas potensi eskalasi militer susulan dari pihak Washington.
Memasuki bulan ketujuh ketegangan militer, belum ada indikasi penurunan intensitas dari kedua belah pihak. Peringatan terbaru dari Tehran menandakan potensi pelebaran konfrontasi langsung yang dapat melibatkan negara-negara Teluk serta instalasi militer AS di kawasan tersebut.
Ancaman Target Strategis dan Kapal Perang AS
Berdasarkan sumber yang dilansir WSJ, para mediator mencatat bahwa Iran bersiap mengambil tindakan yang lebih agresif terhadap personel militer AS. Rencana tersebut mencakup upaya penenggelaman armada kapal perang AS di Timur Tengah.
Selain itu, pejabat Iran juga menyampaikan peringatan terpisah kepada perwakilan diplomatik Arab mengenai ancaman serangan terhadap infrastruktur vital kawasan, termasuk fasilitas pengolahan minyak milik Arab Saudi.
Sinyal eskalasi ini diperkuat oleh pernyataan Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei. Ia menegaskan bahwa infrastruktur strategis seperti pusat data regional, kabel internet bawah laut, hingga wilayah Uni Emirat Arab dapat menjadi sasaran tembak jika serangan terhadap Iran kembali terjadi.
Penguatan Situs Nuklir dan Pemulihan Militer
Analisis citra satelit Vantor oleh Institute for Science and International Security menunjukkan peningkatan aktivitas pertahanan di sekitar kawasan sensitif Iran. Pembangunan tanggul tanah darurat terdeteksi di sekitar situs nuklir Gunung Pickaxe dan Natanz untuk mengantisipasi potensi serangan darat.
Laporan lembaga tersebut juga mencatat adanya aktivitas signifikan di fasilitas Minzadayi, sebuah kompul pertahanan nuklir yang terletak di timur laut Tehran.
Langkah pemulihan ini memanfaatkan jeda operasi militer skala besar sejak akhir Juli lalu. Iran difokuskan pada perbaikan fasilitas produksi rudal dan drone guna memperkuat kembali logistik pertahanannya.
Jenderal Gholamreza Jalali, pejabat yang bertanggung jawab atas perencanaan darurat Iran, mengonfirmasi bahwa seluruh infrastruktur vital seperti bandara, pelabuhan, dan pembangkit listrik telah disiagakan dalam kondisi perang.
Analisis Pengamat dan Langkah Antisipasi AS
Direktur Program Timur Tengah Chatham House, Sanam Vakil, menilai langkah keras yang diambil pemerintah Iran merupakan strategi untuk menghadapi kebuntuan di berbagai lini.
"Kondisi siaga perang saat ini memberikan keuntungan politik bagi mereka di tengah kebuntuan diplomatik dan ekonomi. Melalui eskalasi baru, Republik Islam Iran berupaya keluar dari tekanan domestik dan regional," ujar Vakil kepada The Wall Street Journal.
Sementara itu, Behnam Ben Taleblu, peneliti senior dari Foundation for Defense of Democracies (FDD), menuturkan bahwa tindakan Tehran mencakup dua fungsi sekaligus. "Iran secara aktif mempersiapkan diri untuk fase perang berikutnya. Langkah-langkah ini berfungsi sebagai daya gertak (deterrence) sekaligus perencanaan militer matang," ungkap Ben Taleblu.
Dari pihak Amerika Serikat, Departemen Pertahanan dilaporkan mulai mengerahkan kelompok tempur kapal induk ketiga dan unit ekspedisi Marinir tambahan menuju kawasan Timur Tengah. Pentagon juga tengah mempertimbangkan pengiriman sistem pertahanan udara dan amunisi tambahan untuk memperkuat basis-basis militernya di kawasan tersebut.
Situasi keamanan di jalur pelayaran vital turut memanas. Menurut laporan lembaga United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), sedikitnya tiga kapal komersial mendapat serangan di sekitar Selat Hormuz, termasuk insiden serangan drone yang menimpa kapal tanker Petro Dolphin di lepas pantai Oman.










