TVRINews – Jedah
Pertemuan internasional di Jeddah hasilkan penolakan keras terhadap rencana pembagian wilayah Yerusalem.
Indonesia bersama 56 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) secara kolektif mengecam keras eskalasi perluasan permukiman ilegal Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Sikap tegas ini ditegaskan kembali sebagai bentuk solidaritas mutlak terhadap kedaulatan dan hak-hak fundamental rakyat Palestina.
Pernyataan bersama tersebut dirumuskan menyusul rangkaian Sesi Luar Biasa ke-23 Dewan Menteri Luar Negeri OKI yang berlangsung di Jeddah kamis 27 Juli 2026, Arab Saudi. Delegasi Republik Indonesia dalam forum strategis tingkat tinggi ini dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Anis Matta.
Sidang darurat ini secara konsisten menempatkan perjuangan rakyat Palestina dan status Yerusalem sebagai poros utama perhatian dunia Muslim. Para menteri luar negeri anggota OKI kembali menggarisbawahi hak mutlak rakyat Palestina atas penentuan nasib sendiri, kemerdekaan, serta pendirian sebuah negara merdeka berdaulat dengan batas wilayah tahun 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Dalam naskah komunike resmi yang dihimpun dari kantor berita WAFA, forum menegaskan bahwa wilayah teritorial Palestina yang mencakup Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza merupakan satu kesatuan geopolitik yang tidak terpisahkan. OKI secara tegas menolak segala bentuk skema unilateral yang berupaya memecah belah wilayah tersebut atau memaksakan realitas administratif baru di lapangan.
Selain menyoroti isu aneksasi tanah, forum tingkat tinggi ini juga melontarkan kecaman tajam terhadap rangkaian agresi militer Israel yang masih berkecamuk di Jalur Gaza. Berbagai bentuk pelanggaran kemanusiaan, mulai dari blokade pangan, penggusuran sistematis, hingga kehancuran infrastruktur sipil, dinilai telah mencapai titik krisis yang menuntut intervensi global segera.
OKI mendesak implementasi penuh dari resolusi internasional serta transisi cepat menuju fase lanjutan kesepakatan gencatan senjata. Langkah tersebut mencakup penarikan total militer Israel dari kantong Gaza, pembukaan akses perbatasan secara menyeluruh, serta pemulihan jalur distribusi bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
Di sisi lain, apresiasi turut disampaikan kepada para mediator internasional, termasuk Amerika Serikat, Mesir, Qatar, dan Turki, atas inisiatif diplomatik mereka dalam meredakan ketegangan kawasan.
Menutup rangkaian sidang, forum mengecam keras implementasi proyek permukiman kontroversial E1 yang mencakup ribuan unit hunian baru di sebelah timur Yerusalem. Kebijakan tersebut dinilai sebagai ancaman nyata yang memutus kesinambungan teritorial Palestina dan mencederai prospek perdamaian abadi di kawasan Timur Tengah.










