TVRINews – Teheran
Ketegangan militer kembali memuncak di kawasan Teluk setelah aksi saling serang antara pasukan Amerika Serikat dan Korps Garda Revolusi Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang tengah berjalan. Pernyataan ini menyusul serangan udara AS di wilayah pelabuhan selatan Iran Senin 1 Juni 2026 yang memicu eskalasi militer singkat antara kedua belah pihak.
"Amerika Serikat terus melanggar gencatan senjata, termasuk yang terjadi pagi ini," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers mingguan di Teheran.
Baqaei menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam dan bersiap mengambil tindakan yang diperlukan guna melindungi kedaulatan mereka. "Iran akan mengambil langkah apa pun yang kami anggap perlu untuk membela keamanan nasional," tambahnya.
Saling Serang di Tengah Jalur Diplomasi
Ketegangan terbaru ini terjadi di saat kedua negara sebenarnya sedang terlibat dalam proses negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.

(Pesawat F-16 Fighting Falcon milik Angkatan Udara AS terbang di atas Laut Arab dalam misi patroli regional. (Foto via X/@CENTCOM))
Pihak Washington menyatakan bahwa mereka membidik sejumlah situs militer Iran pada akhir pekan lalu. Langkah tersebut diklaim sebagai respons atas tindakan agresif Iran sebelumnya.
"Pesawat tempur AS merespons dengan cepat dengan menghancurkan pertahanan udara Iran, sebuah stasiun kendali darat, dan dua drone penyerang yang menimbulkan ancaman nyata bagi kapal-kapal yang transit di perairan regional," sebut Komando Sentral AS (CENTCOM) melalui pernyataan resmi di platform X , Senin 1 Juni.
CENTCOM menambahkan, serangan itu dipicu oleh jatuhnya drone MQ-1 milik AS yang sedang beroperasi di atas perairan internasional. Pihaknya juga menegaskan akan terus melindungi aset dan kepentingan AS selama masa gencatan senjata ini.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa mereka telah membidik pangkalan udara yang digunakan oleh AS untuk meluncurkan serangan tersebut. Kendati demikian, pihak IRGC tidak merinci pangkalan udara mana yang menjadi target utama.
Sementara itu, kantor berita resmi Kuwait, KUNA, melaporkan bahwa sistem pertahanan udara di Kuwait tempat pangkalan besar AS berada sempat mencegat serangan rudal dan drone. Sirene peringatan terdengar di penjuru negeri, meski belum ada rincian lebih lanjut mengenai dampak kerusakan.
Dampak Ekonomi Global dan Tekanan Politik
Konflik yang bermula pada 28 Februari lalu ini telah menimbulkan dampak hebat. Ribuan korban jiwa jatuh, mayoritas berada di wilayah Iran dan Lebanon. Selain itu, penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu lonjakan harga energi dan menekan perekonomian global.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa fokus utama dari operasi militer ini adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir melalui program pengayaan uranium. Tuduhan tersebut berulang kali dibantah oleh Teheran yang menegaskan program nuklir mereka murni untuk tujuan damai.
Secara domestik, Trump menghadapi dilema politik menjelang pemilihan kongres pada November mendatang. Di satu sisi, ia dituntut membuka kembali Selat Hormuz demi menurunkan harga bahan bakar di AS. Di sisi lain, ia menghadapi tekanan dari kelompok garis keras di partainya sendiri agar tidak memberikan konsesi atau kelonggaran terhadap Iran.
Hambatan Jalur Damai
Perundingan yang dimediasi sejak gencatan senjata awal April lalu berjalan lambat. Kedua belah pihak masih buntu terkait beberapa poin krusial, termasuk tuntutan Teheran atas pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan dana pendapatan minyak senilai puluhan miliar dolar yang dibekukan di bank-bank asing.
Situasi kian rumit akibat konfrontasi paralel di Lebanon antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi telah memerintahkan pasukannya untuk bergerak lebih dalam ke wilayah Lebanon.
Guna meredakan situasi, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan telah menjalin komunikasi dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan PM Netanyahu. Menurut sumber pejabat AS , Washington kini tengah menawarkan proposal kesepakatan untuk "de-eskalasi bertahap" demi mencegah konflik meluas menjadi perang regional yang lebih besar, kutip Arab News.










