TVRINews – London, Inggris
Lautan merah putih penuhi kota, ubah trofi juara menjadi pesta keberagaman yang emosional.
Jalanan London Utara berubah menjadi lautan merah dan putih. Ketika bus atap terbuka yang membawa skuad Arsenal berbelok dari Blackstock Road menuju Newington Green, kepulan asap suar merah menyambut para juara baru Premier League Minggu 31 Mei 2026.
Di tengah riuh rendah sorak-sorai, ribuan telepon genggam terangkat ke udara, mencoba mengabadikan momen yang telah dinantikan selama lebih dari dua dekade.

(Diambil dari puncak London Metropolitan University, suasana Holloway Road dengan latar belakang kota London saat Arsenal memulai parade trofi. (Foto: Tom Jenkins/The Guardian))
Kepolisian Metropolitan London memperkirakan pawai ini menjadi salah satu parade olahraga terbesar dalam sejarah Inggris, dengan lebih dari satu juta orang memadati rute sepanjang lima mil.
Penumpukan massa terlihat jelas di stasiun-stasiun kereta utama seperti Kings Cross, sementara kawasan Highbury dan Holloway Road lumpuh total oleh lautan manusia.
Namun, atmosfer di lapangan menunjukkan bahwa perayaan ini bukan sekadar tentang trofi sepak bola. Ini adalah perayaan sebuah komunitas pertemuan antara identitas lokal London Utara dan basis penggemar global yang dipersatukan setelah bertahun-tahun menjadi sasaran kritik dan olok-olok.
Keberagaman di Jantung London
Pawai kemenangan ini mencerminkan wajah modern dari kota London yang multikultural. Berbeda dengan lanskap tribun stadion Premier League pada umumnya, jalanan hari itu dipenuhi oleh keberagaman etnis, usia, dan latar belakang.
Solene, seorang warga asli London Utara yang saat ini menetap di Birmingham, bahkan rela terbang langsung dari Republik Demokratik Kongo demi menyaksikan momen bersejarah ini.
"London Utara adalah segalanya bagi orang-orang yang tumbuh di sini," ujar Solene kepada The Guardian. "Klub ini telah merangkul semua orang. Ini sangat luar biasa, karena sepak bola adalah milik semua orang."
Sentimen serupa terlihat di sepanjang Seven Sisters Road hingga Clissold Park, di mana para pendukung dari berbagai latar belakang budaya berkumpul bersama. Dari wanita berhijab yang mengibarkan bendera klub, hingga yel-yel untuk Declan Rice yang disuarakan dalam berbagai bahasa, parade ini menjadi simbol inklusivitas.
Penawar Rindu Generasi Baru
Perayaan ini terasa sangat emosional bagi generasi pendukung berusia di bawah 30 tahun. Banyak di antara mereka yang mengenakan jersi klasik era The Invincibles tahun 2004 tim Arsenal terakhir yang menjuarai liga meski mereka sendiri tidak memiliki memori langsung tentang masa kejayaan tersebut.
Bagi generasi yang tumbuh di era media sosial, krisis ekonomi, dan pasca-pandemi, gelar juara ini merupakan sebuah katarsis. Salah seorang pendukung muda asal London Selatan merangkum dinamika tersebut dengan sederhana: "Semua orang hanya sedang mencari sedikit kebahagiaan."
Parade berakhir di Emirates Stadium, di mana upacara seremonial tertutup digelar. Meskipun akses ke dalam stadion terbatas, hal itu tidak menyurutkan semangat massa di luar. Sistem suara yang dipasang di sepanjang Holloway Road mengubah kawasan tersebut layaknya festival jalanan.
Pergeseran Zaman dan Tradisi
Bagi para pendukung senior, skala perayaan modern ini mendatangkan rasa takjub sekaligus refleksi mendalam mengenai bagaimana industri sepak bola telah berubah.
Kenny dan Andrew, dua pendukung lokal berusia 60 tahun, mengenang kembali masa ketika mereka menyambut tim peraih Double Winner asuhan Bertie Mee pada tahun 1971 di Liverpool Road.
"Dahulu, Anda bisa berjalan tepat di belakang bus dan mengikutinya," kenang Andrew. "Ada interaksi langsung dengan pemain. Hari ini, bus melaju cepat dan para pemain hampir tidak menyadari keberadaan Anda."
Kenny juga menyoroti komersialisasi sepak bola modern, termasuk harga jersi replika yang kini mencapai £80 (sekitar Rp1,6 juta). Meski demikian, ia memahami mengapa lautan manusia tetap turun ke jalan.
"Dunia saat ini sangat rumit," kata Kenny. "Dan Anda harus mengambil kebahagiaan itu kapan pun Anda bisa mendapatkannya."
Pada akhirnya, parade ini menegaskan bahwa keberhasilan Arsenal musim ini tidak hanya diukur dari trofi yang berhasil mereka angkat, melainkan bagaimana klub ini mampu menyatukan kembali sebuah komunitas yang luas dalam satu narasi kegembiraan bersama.










